Mahatva menegaskan bahwa perilaku korupsi oleh orang-orang yang memiliki religiositas tinggi itu bukan disebabkan oleh nilai-nilai agamanya, melainkan bagaimana ajaran agama itu dipahami, diajarkan, dan diamalkan dalam satu struktur sosial masyarakat. Jika agama hanya dijadikan alat identitas sosial dan mobilitas politik tanpa disertai adanya nalar kritis, religiositas hanya akan menjadi topeng untuk menutupi berbagai kebobrokan dan ketidakadilan, termasuk korupsi yang dilakukan.
”Agama akhirnya tidak menjadi alat emansipasi, tetapi hanya dijadikan alat untuk mempertahankan dominasi sosial,” ujarnya.(**)
artikel ini telah tayang di kompas.id :
https://www.kompas.id/artikel/religius-tapi-gemar-korupsi-apa-yang-salah

Leave a comment