Skip to content

Riligius, Tapi Korupsi Masih Tinggi, Apa yang Salah Di Indonesia ???

Kondisi itu justru berkebalikan dengan negara-negara dengan religiositas rendah atau kurang yang ternyata justru memiliki IPK tinggi. Denmark, yang hanya 19 persen masyarakatnya mengaku religius atau menduduki peringkat 145 dari 148 negara, memiliki IPK 90 dan menjadi negara dengan tingkat korupsi terendah di dunia. Adapun Singapura yang 70 persen penduduknya tidak religius mempunyai IPK tertinggi ketiga di dunia.

Dalam berbagai kasus korupsi yang diungkap aparat penegak hukum di Indonesia, banyak pelaku korupsi memiliki sosok, wajah, dan berbagai tampilan lahiriah yang religius. Kondisi itu juga sering kali disertai informasi kekagetan orang-orang di sekitar mereka yang tidak menyangka pelaku melakukan korupsi karena dalam kehidupan sehari-hari terlihat religius.

Lantas, apa sebenarnya yang terjadi? Bukankah semua agama melarang korupsi? Mengapa keyakinan terhadap ajaran agama, apa pun agamanya, belum cukup kuat mencegah korupsi di seluruh dunia, termasuk Indonesia?

Peneliti neurosains dan perilaku sosial yang juga Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta Taufiq Pasiak, di Jakarta, Kamis (6/3/2025), mengatakan, religiositas dan korupsi terkait dengan tiga fungsi eksekutif otak, yaitu fungsi pengambilan keputusan berbasis etik, sistem kendali diri, dan makna hidup.

Ketiga fungsi eksekutif otak itu diatur oleh lima bagian otak, mulai dari korteks prefrontal yang merupakan otak bagian depan untuk berpikir rasional, sistem limbik sebagai pusat emosi, serta girus singulatus sebagai bagian limbik yang menentukan sikap reaksi terhadap motivasi.

Bagian otak lain yang terlibat dalam fungsi eksekutif itu adalah ganglia basal yang terkait dengan sistem penghargaan dan kognisi serta lobus temporal yang berperan dalam memproses polisensori dengan mengintegrasikan fungsi pendengaran, sensori, visual, dan emosi.

Article topics

Leave a comment

Tinggalkan Balasan