Ada beberapa alasan mengapa narasi ini cepat populer:
1. Kompleksitas Dana Desa tidak mudah dipahami publik
Sebagian orang melihat besaran Dana Desa yang besar, tetapi tidak memahami sistem administrasinya. Lalu mereka mencari objek yang mudah disalahkan.
2. Kapasitas sebagian desa masih belum merata
Beberapa daerah masih mengalami kesenjangan SDM, sehingga pendamping sering dianggap “menggurui”. Padahal mereka bekerja sesuai mandat regulasi.
3. Ada kepentingan politik lokal
Tidak jarang pendamping dianggap sebagai penghalang bagi pihak yang ingin menggunakan Dana Desa untuk kepentingan tertentu.
4. Kultur mencari “kambing hitam”
Ketika ada kasus hukum di desa, sebagian pihak memilih melempar kesalahan kepada pendamping, meskipun fungsi mereka bukan eksekutor anggaran.
Fenomena ini menunjukkan bahwa narasi “TPP sebagai beban negara” lebih merupakan persoalan persepsi politik dan sosial, bukan persoalan finansial.
Negara Justru Diuntungkan oleh Kehadiran Pendamping
Jika TPP dihapus atau dikurangi secara drastis, implikasinya sangat besar:
1. Potensi kerugian negara meningkat
Tanpa pendamping yang memantau perencanaan dan pelaksanaan, risiko salah kelola naik signifikan.
2. Beban aparatur desa meningkat
Desa yang SDM-nya belum memadai akan kesulitan menyusun dokumen perencanaan secara benar.
3. Pemerintah pusat kehilangan mata dan telinga di lapangan
Pendamping adalah penghubung langsung antara kebijakan pusat dan kondisi aktual desa.
Baca Juga: Besarnya Cinta BPD Kepada Desanya Seperti Hati Yang Tak Pernah Berpaling
4. Kinerja Dana Desa menurun
Data yang tidak akurat, perencanaan asal-asalan, dan indikator capaian yang kabur akan menurunkan dampak fiskal Dana Desa.

3 comments