Skip to content

Persamaan dan Perbedaan Teroris-Koruptor, Sama-Sama Dikenal Berprilaku Religius

Gambar ilustrasi korupsi DD.(foto: net)

Padahal siapapun yang mengungkapkan kata itu mestinya mawas diri. Kalau yang ngomong anggota sebuah partai maka bertanyalah balik, apakah bila presiden partai yang korupsi itu juga boleh disebut kecolongan?

Kalau yang komentar anggota DPR maka bertanyalah, apakah Ketua DPR RI yang mencatut nama Presiden juga bukan kecolongan? Kalau yang bertanya pimpinan organisasi keagamaan, maka bertanyalah manakala Menteri Agama korupsi itu bukan sebuah kecolongan?

Tapi biarlah kata kecolongan itu dituding-tudingkan, untuk saling tuding, untuk saling mawas diri. Maka mari kita budayakan kata “kecolongan”. Inilah negeri kecolongan, negeri yang sejak zaman dulu sangat kreatif-atraktif dan apresiatif terhadap semua tindak kecolongan.

Kata kecolongan dari kata dasar ‘nyolong” artinya mencuri atau maling. Tambahan awalan dan akhiran untuk menjadikan kata bentukan yang artinya ‘terlepas dari perhatian, atau kurang diperhatikan’ (bukan kecurian, ataukemalingan).

Kembali ke soal persamaan, kedua kelompok begundal itu membuat sengsara dan nelangsa  rakyat. Mereka intens menghancurkan moralitas dan ukuran baik-buruk, mengumbar kehidupan hedonis hasil merampok dan sokongan penyandang dana (untuk teroris) serta hasil korupsi (untuk para koruptor), yang menjadikan orang malas bekerja-berfikir dan mau cari gampang saja.

Sekilas keduanya tidak bersangkut-paut dengan motif ekonomi, namun dampaknya jelas ke sana. Teroris mengakibatkan kegiatan sosial-ekonomi mati suri, dan lama waktunya untuk dapat pulih kembali.

Untuk kasus korupsi, tiang dan sendi-sendi  berbangsa dan bernegara digerogoti para pelaku dengan tanpa malu – tanpa ragu – tanpa merasa bersalah.

Sosok menteri, gubernur, akademisi, tokoh agama, dan sebut siapa saja yang lain, hampir tidak ada yang bebas dari perilaku korup itu. Bahkan konon sosok presiden pun (di negeri ini entah presiden yang ke berapa saja) mendapatkan tudingan menjadi salah satu dalang tindak dan bancakan korupsi itu.

Apalagi? Masih banyak kalau mau diurut persamaan keduanya.  Diantaranya, sama-sama pengecut, sama-sama sesat, sama-sama  hanya mementingkan diri sendiri, dan sama-sama ingin menghindar dari hukuman.

Article topics

Leave a comment

Tinggalkan Balasan