Sedangkan untuk para koruptor tidak ada kata sembunyi, sebab banyak diantara mereka memang public figure. Lihatlah gaya dan kewibawaannya, lihatnya cara bicara dan senyumnya.
Mereka tak lain adalah para pejabat, tokoh politik, anggota DPR/DPRD, para pengusaha bonafid, dan para pakar hukum. Anak-isteri dan keluarga maupun kerabat pasti tahu belaka kelakuan kriminal yang dilakukannya; dan orang-orang itu pura-pura tidak tahu alias tutup mata atau memang ketularan buta hati.
Soal pengetahuan dan keahlian kriminal yang mereka miliki itu sudah semacam ‘kearifan lokal’, tidak perlu belajar ke negeri lain mana pun. Cukup dengan mengikuti warisan kolonial, yang diantaranya dengan perilaku ‘asal-bapak-senang’, memplesetkan ungkapan Jawa ‘jer basuki mawa beya (untuk berhasil memerlukan pengorbanan/biaya)’ , dan mengutip sepenggal saja (tidak lengkap) nasehat dalam agama ‘carilah harta/dunia sebanyak-banyaknya seolah-olah kamu akan hidup selamanya’.
Lihat Juga :
HEADLINE: Gus Miftah Mengundurkan Diri dari Jabatan Utusan Khusus Presiden
Modal bagi para koruptor tidak sembarangan, selain pengetahuan mendalam mengenai celah untuk membobol, juga kepandaian berdiplomasi dan kongkalikong membuat jaringan.
Itu sebabnya perilaku koruptif selalu berjamaah. Soal yang tertangkap dan dihukum hanya satu-dua orang saja itu perkara lain. Beda dengan para teroris, hukuman untuk koruptor pun relatif ringan, bahkan rutin mendapatkan remisi pula nantinya (sebelum kemudian banyak dikritik dan dikritisi).
Para koruptor sama sekali tidak membayangkan bakal mendapatkan hukuman mati. Sebab kalau pun pasal hukuman mati itu ada, mereka bakal mampu menyewa pengacara paling canggih dan mahal sekalipun, pengacara yang notabene mampu membolak-balikkan nasib kliennya.
Namun satu hal yang pasti, para koruptor memang sangat takut mati (apalagi membayangkan foto wajah mayat mereka di-close up dan disebar-luaskan media (untuk mengetahui tersenyum atau mengkerut ketakutan)! Mereka akan berupaya sekeras mungkin agar tidak mati membusuk di penjara, apalagi di hukum mati. . . .nggak banget deh!
Persamaan, Kecolongan
Teroris dan koruptor sama-sama disebut sebagai kejahatan kemanusiaan. Teroris jelas membuat suasana mencekam, masyarakat takut dan was-was, aparat keamanan harus bekerja keras, banyak penangkapan dan salah tangkap, dan lain-lain. Teroris di Sarinah Jakarta bahkan memunculkan satu kata bernuansa pro-kontra yang terasa pahit “kecolongan”.

Leave a comment