Namun, ketika berkunjung ke Hindia Belanda mau tidak mau mereka harus mandi karena suhu tropis yang sangat panas.
Perlu diketahui, saat itu tidak ada sistem pendingin ruangan, baik AC atau kipas angin, di hotel atau tempat penginapan. Dan, Jakarta tahun 1861 tentu berbeda dengan kondisi sekarang.
Suasananya masih sepi dan asri, sehingga cocok dipakai untuk berwisata. Cuaca panasnya pun tidak bisa disamakan dengan kondisi saat ini.
Meski begitu, orang Eropa menganggap itu tetap saja panas dan harus berhadapan dengan cuaca ekstrim itu. Menyikapi ini, kata Sunjayadi, mereka banyak berendam di baik mandi dalam waktu lama, sehingga air baknya menjadi kotor. Biasanya mereka melakukan ini setelah selesai beraktivitas di luar rumah.
Baca Juga:
14 Hari Sebelum Menstruasi, Masa subur Perempuan, Ini yang Terjadi
Agar dapat mandi dengan sukses, para pengunjung asing diperkenalkan dan diajarkan mandi oleh masyarakat setempat. Alhasil, cara mandinya pun tidak jauh berbeda, yakni dengan mengguyurkan air dari dalam ember atau bak mandi menggunakan gayung ke kepala. Menurut Sunjayadi, mereka sangat antusias atas kegiatan ini.
Tingginya antusiasme ini bahkan menjadi inspirasi cuan bagi Hotel de l’Univers, yang terletak kawasan Molenvliet, Batavia (Sekarang Jl. Gajah Mada dan Jl. Hayam Wuruk, Jakarta).
Diketahui, pada 1861 mereka menjadikan mandi sebagai daya tarik wisata. Pihak hotel menyediakan semacam paket lengkap yang di dalamnya terdapat kegiatan mandi.
Baca Juga:
Cara Mudah Merawat Bougenville Cepat Berbunga dan Subur
Namun, paket itu tidak hanya berupa mandi, alias ada tahapan-tahapan lain.
Dalam paket itu, para tamu akan diberi rijstaffel atau paket makan siang. Setelahnya, mereka akan diarahkan untuk siesta atau beristirahat. Bisa tidur di kamar atau bersantai di kursi malas serambi hotel tersebut.
Selama itu, mereka juga diarahkan oleh petugas hotel untuk tidak berjalan-jalan dan menghindari sinar matahari agar tidak kepanasan.

One comment