KAUR || NUSANTARAMAILS.COM – Di balik hiruk-pikuk pembangunan dan geliat pemerintahan desa, ada satu sudut senyap yang jarang tersorot, kesunyian para perangkat desa dan anggota Badan Permusyawaratan Desa (BPD).
Mereka bekerja, mengabdi, dan menjaga roda pemerintahan tetap berputar, meski upah yang dijanjikan sering kali tak kunjung mengabari.
Di beberapa desa, kisah serupa berulang hampir tiap bulan. Perangkat desa menjalankan pelayanan administrasi dari pagi hingga petang, sementara anggota BPD terus memastikan fungsi pengawasan dan penyaluran aspirasi tetap berjalan.
Namun, realitas di lapangan tak semanis tugas yang tertera di atas kertas: honor yang terlambat, insentif yang tak menentu, serta tanggung jawab yang makin besar.
“Kadang kami seperti bekerja di ruang sunyi. Pelayanan harus tetap berjalan, masyarakat tetap membutuhkan, tapi soal hak, kami hanya bisa menunggu,” ujar salah satu perangkat desa yang enggan disebut namanya.
Baca Juga :
Menurutnya, semangat pengabdian sering kali menjadi alasan utama mereka bertahan, bukan karena kesejahteraan yang diterima.
BPD pun merasakan hal serupa.
Tugas menampung aspirasi, mengawasi pembangunan, hingga memastikan transparansi anggaran bukanlah hal mudah. Namun, penghargaan terhadap peran mereka kerap terpinggirkan oleh keterbatasan anggaran desa yang sering menjadi alasan klasik.
Kondisi ini membuat sebagian perangkat desa dan BPD berada pada dilema antara melanjutkan pengabdian atau mencari pekerjaan lain yang lebih menjanjikan secara ekonomi.
Meski begitu, banyak di antara mereka memilih bertahan demi desa yang mereka cintai.
Pengamat pemerintahan desa menilai, situasi tersebut seharusnya menjadi alarm bagi pemerintah daerah maupun pusat untuk memperhatikan kesejahteraan pelayan publik di tingkat desa.
“Tidak bisa kita berharap pelayanan prima jika kesejahteraan aparatur desa masih timpang. Mereka bekerja di garda terdepan, mengurus masyarakat dari hal paling dasar. Sudah saatnya honor dan insentif mereka ditata lebih baik,” ujarnya.
Di tengah sunyi ruang kerja dan seringnya janji honor tak tepat waktu, perangkat desa dan BPD tetap hadir setiap hari. Setia mengabdi pada masyarakat, meski upah sering kali tak memberi kabar.
Dari sudut kesunyian itulah, loyalitas mereka diuji—dan hingga kini, mereka masih berdiri tegak demi desa.(yti)

One comment