Para pelayan Sultan merasa terkejut melihat kumis Rajanya terpotong separuh dengan sendirinya, tanpa sadar para pelayan tersebut kemudian tertawa terbahak-bahak.
Melihat hal tersebut Sultan Mataram kemudian murka, dan mempertanyakan sebab-sebab para pelayannya terbahak-bahak tanpa adab didepan Rajanya.
Dengan ketakutan para pelayan tersebut kemudian memberitahukan mengenai hilangnya separuh kumis sang Raja
Sultan Mataram segera mengambil cermin, dan kemudian berteriak sambil berkata “Perbuatan Siapa ini…?” Arya Salingsingan kemudian menjawab dengan tanpa rupa “Aing Nu Nyukur Heunteu Sieun, Ku Tangkurak Sia..!! (Aku yang mencukur, Aku tak takut padamu…!!)”
Mendengar jawaban tanpa rupa itu, Sultan Mataram kemudian menanyakan pada patihnya, “Hai Patih apa maksudnya itu, aku tak mengerti bahasa “Aing Nu Nyukur” sambil menyembah patih itu kemudian menjawab “Ampun Gusti, bahasa yang memakai kata “Aing” itu ialah bahasanya orang Cirebon yaitu bahasa Sunda”.
Dengan marah besar sultan Mataram kemudian memerintahkan agar orang Cirebon dihadapkan, namun demikian ternyata rombongan Cirebon waktu itu sudah pulang.
Setelah peristiwa tersebut, Mataram kemudian melakukan penyerangan terhadap Cirebon, serangan pertama dipimpin oleh Pangeran Purbaya dengan 1000 prajurit, medan tempurnya berada di Kali Kasuneyan Desa Progol, dalam serangan tersebut Pangeran Purbaya terbunuh oleh Arya Tandumuni.
Gagal pada serangan pertama, selanjutnya Sultan Mataram mengirimkan lagi tentaranya untuk menyerbu Cirebon, serbuan dipimpin oleh Pangeran Salatiga dengan puluhan ribu pasukan, adapun yang menjadi medan tempur atau tempat berlangsungnya peperangan yaitu di Tugu Manggang, dalam serangan kedua ini pasukan Mataram juga berhasil dikalahkan akan tetapi Pangeran Salatiga tidak terbunuh.
Belum puas akan kegagalan serangan yang kedua kalinya, Sultan Mataram dalam lain kesempatan mengutus puluhan ribu pasukan Mataram kembali menyerang Cirebon, adapun yang menjadi panglima Mataram waktu itu adalah Nata Suwangga dan penyerbuan yang ketiga inipun dapat ditumpas Cirebon. Adapun yang menjadi lokasi medan peperangan dalam serangan ketiga ini adalah di Losari.
Lihat Juga :
Dua Figur Terbaik Kabupaten Kaur Ambil Formulir Pendaftaran Cabup di PKB
Setelah kegagalan penaklukan Cirebon yang ketiga kalinya itu, Mataram menyerah dan tidak lagi menggangu orang Cirebon.
Selanjutnya setelah peristiwa ketangguhan orang Cirebon dalam menghadapi Mataram itu tersiar luas, banyak tokoh-tokoh Mataram yang dianggap memberontak pada Raja Mataram kemudian meminta Suaka kepada Cirebon.

2 comments