Anehnya Ki Jagastru yang tampil memanggul meriam itu masih tetap berdiri kokoh, tak goyah barang sedikitpun. Melihat kejadian tersebut orang-orang Mataram yang sebelumnya menghina Carbon terperangah keheranan, dan mulai kagum.
Setelah peristiwa tersebut, Sultan Mataram merasa khawatir pada kedudukanya, takut Cirebon memberontak, dan mampu mengalahkan Mataram, mengingat kemampuan orang Cirebon dalam kecakapan memainkan senjata diluar kemampun pada umumnya.
Baca Juga :
Mulai setelah itu, tamu dari Cirebon dijaga ketat di Mataram, bahkan tas, dan perbekalan Panembahan Ratu selama berkunjung di Matarampun diperiksa dengan semena-mena seperti tidak menghargai Sultan Cirebon.
Atas perlakuan buruk tersebut, Arya Salingsingan, Arya Tandhumuni, Ki Jagasatru, Ki Arya Kanduruan dan Arya Wanahaji menyimpan dendam dan marah besar. Maka ketika masa seba telah habis, rombongan Sultan Cirebon kemudian memohon diri untuk pamit pulang ke Cirebon.
Namun, para Patih Cirebon itu justru tidak ikut serta pulang beserta rombongan, melainkan membuat kekacauan di dalam Istana Mataram.
Arya Salingsingan mengeluarkan aji limunan sehinga wujudnya tak tampak mata, dengan ajian itu, ia memasuki Istana, sementara itu di dalam istana, Sultan Mataram sedang duduk akan bersantap dengan dilayani pelayannya, melihat hal tersebut dengan tanpa diketahui Sultan Mataram, Arya Salingsingan kemudian memegang dahi Sultan Mataram dan mencukur separuh kumis Sultan Mataram.

2 comments