Kapten Sukendar mengalah, anggota tim lalu sarapan bersama. (ternyata benar, Kapten Sukendar kemudian sampai 4 hari tidak bisa makan…)
Rombongan kemudian menuju Lubang Buaya lewat Cililitan menuju pangkalan Halim, dan tidak ada yang tahu arah ke lokasi.
Begitu masuk kawasan Halim, mereka dikejar 1 truk pasukan penjaga pangkalan, kepada sopir diperintahkan masuk halaman Komando Operasi.
Bertemu Komodor Dewanto, (Deops AURI), dan Kapten Sukendar minta bantuan ke lokasi sumur Lobang Buaya.
2 orang PAU (Polisi AU) diperintahkan mengantar rombongan.
Rombongan sampai ke sebuah pos yang menuju lokasi sumur. Lokasi sekitar sumur dijaga ketat oleh pasukan RPKAD.
Jam 09.30 WIB, seorang Pembantu Letnan RPKAD menghadang mobil rombongan, dan tetap melarang masuk walaupun sudah dijelaskan kedatangannya atas perintah Pangkostrad.
Petugas pos tetap tidak percaya karena rombongan dikawal oleh Polisi AU dan ada pasukan baret ungu di rombongan.
Rombongan Kapten Sukendar pun mengalah dan beristirahat di warung karedok sambil menunggu rombongan Pangkostrad.
Jam 11.30 WIB, terdengar konvoi rombongan Pangkostrad, dan Kapten Sukendar nekad menghentikan konvoi untuk melaporkan Tim sudah siap, namun dilarang masuk.
“Siapa yang tidak memperbolehkan masuk?” tanya Mayjen Soeharto.
“Pos penjagaan Panglima..” sahut Kapten Sukendar.
“Tunggu..” jawab Panglima.
Sekitar 10 menit kemudian, seorang kurir bermotor membawa perintah untuk membawa Kapten Sukendar menghadap Pak Harto.
“Bagaimana Dar, tim mu sudah siap? ” tanya Pak Harto…”Siap Panglima…”
Kemudian Kapten Sukendar diantar naik motor kembali ke warung karedok, dan tim diperintahkan masuk ke lokasi sumur berada.
Jam 13.30 WIB, 4 Oktober 1965
Singkat cerita, pengangkatan 7 jenazah berhasil dilakukan, dan telah banyak dituliskan.
Dari 12 rombongan pimpinan Kapten Sukendar tersebut, lalu bertambah 1 orang lagi yakni Praka Nanang anggota RPKAD turut serta masuk sumur dengan menggunakan peralatan yang dibawa rombongan Kapten Sukendar. Praka Nanang ini pernah mengikuti latihan IPAM.
Atas jasa-jasanya, para anggota KKO memperoleh anugerah dari TNI-AD berupa Bintang Kartika Eka Paksi, dan Kapten Sukendar memperoleh Bintang Jalasena Nararya dari TNI-AL.
Menurut buku “Siapa Dia? Pati TNI-AD” – Harsja Bachtiar, Robertus Sukendar pensiun terakhir dengan pangkat Brigjen dan pernah menjabat Inspektur Pengawas Umum, Itjen TNI-AD.
Menurut berita Tempo Edisi : 21 November 1987, wisuda purnawira beliau dilakukan pada November 1987 berbarengan dengan Jenderal Rudini dan Letjen Dading Kalbuadi.
Disarikan dari tulisan Brigjen (Purn) R. Sukendar pada media komunikasi Senakatha Des 2006
Jani Sari Library.(**)

One comment