PUISI: Suka Duka Coklit, Ada Lelah yang Kadang tak Terucapkan
Di bawah terik matahari atau hujan deras,
Petugas coklit berjalan, menapaki jalan berdebu,
Menghampiri rumah-rumah, mengetuk pintu dengan sabar,
Dalam suka dan duka, tugas ini dijalani penuh tekad.
Di balik senyum ramah yang tak pernah luntur,
Ada lelah yang kadang tak terucapkan,
Namun semangat tetap menyala di dalam dada,
Karena coklit adalah panggilan hati, tugas yang mulia.
Suka saat bertemu wajah-wajah ceria,
Menyapa mereka yang antusias menyambut,
Mencatat data dengan teliti dan penuh cinta,
Merasakan kebersamaan dalam tugas yang berat.
Duka saat pintu tak dibuka, atau ditolak dengan tegas,
Saat langkah terasa berat di jalan yang panjang,
Namun dalam setiap tantangan, ada pelajaran berharga,
Bahwa kesabaran adalah kunci, dan keteguhan adalah kekuatan.
Di setiap rumah, ada cerita yang berbeda,
Dalam suka duka coklit, ada makna yang dalam,
Menghimpun suara rakyat, memastikan tak ada yang terlupa,
Mengukir jejak demokrasi, dalam setiap langkah yang tertanam.
Di malam yang sunyi, saat dunia terlelap,
Petugas coklit merebahkan tubuh yang letih,
Namun hati tetap penuh dengan semangat,
Karena esok hari, tugas mulia ini menanti.
Suka duka coklit, adalah bagian dari perjuangan,
Menyusun keping-keping harapan dalam catatan,
Dengan senyum dan tekad, mereka terus berjalan,
Menghadirkan pemilu yang jujur, penuh harapan dan impian.
Setiap langkah adalah doa, setiap catatan adalah amanah,
Dalam suka dan duka, mereka tetap tegar,
Petugas coklit, pahlawan tanpa tanda jasa,
Menjalani tugas dengan cinta, demi demokrasi yang benar. []

One comment