Sebab pepatah itu bertumbuh dari kebijakan dan pengalaman hidup setiap suku bangsa yang ada untuk diwariskan sebagai “jimat” selamat, kemudahan hidup serta pencapaian keharmonisan dalam kebahagiaan yang diinginkan.
Salah satu pepatah Jawa yang paling populer dan banyak dijadikan pegangan adalah “Nrimo ing panduan”, artinya menerima apa adanya atas kehendak Allah.
Namun sebagai manusia harus tetap usaha serta berupaya untuk meraih yang terbaik dan yang dianggap sempurna. Kendati kesempurnaan yang sejati itu hanya milik Allah.
Atau ada pepatah lain yang menyebutkan bahwa “urip iku urup” maksudnya adalah bahwa hidup itu harus memberi dan mendatangkan manfaat bagi diri sendiri maupun orang lain.
Jadi hidup itu harus memiliki tujuan dan bermakna dalam bentuk kontribusi yang positif bagi diri sendiri, keluarga dan masyarakat hingga bangsa dan negara. Begitu juga relevansinya dengan pepatah “alon-alon asal kelakon” itu menekankan pada kesadaran terhadap kesadaran, meski lambat yang penting tercapai, tidak gagal hingga bisa menghasilkan sesuatu yang diinginkan.
Sama seperti pepatah Sunda yang terkesan lebih santai, yaitu “hirup mah kudu jadi jalma nu manfaat keur batur, lain jadi jalma nu jadi beunghar tapi ku nafsu”.
Atau pepatah Sunda lain yang mengatakan “Hade gede tangtu cageur, hade leutik tangtu Hade” makna jelas mengajarkan betapa pentingnya melakukan kebaikan sekecil apapun dalam segala hal, baik besar maupun kecil, karena kebaikan akan berdampak positif pada diri sendiri dan orang lain.
Dalam masyarakat Lampung ada yang disebut Fi’il pesengiri yang sangat memperhatikan rasa malu dan harga diri. Begitulah pentingnya menjaga rasa malu dan harga diri dalam segenap perilaku serta berinteraksi dengan orang lain yang identik dengan pepatah suku bangsa Bugis Makasar yaitu “Siri na pacce”.
Pepatah Bugis ini mengajarkan tentang kehormatan dan harga diri serta perilaku sopan santun dan hormat terhadap siapapun. Karenanya, orang Bugis — seperti juga orang Lampung — tak suka mengganggu serta tak pula suka diganggu.
Begitulah pepatah yang membentuk karakter, meskipun konsepsi awalnya pepatah itu sendiri berasal dari karakter bawaan sejak turun temurun.
Di tanah Batak pun ada pepatah “Dalihan na tolu”, adanya tiga tungku sebagai sandaran hidup, yaitu : haluhunta ( hubungan kekerabatan dan keluarga, dongantanta (hubungan persahabatan dan komunitas), paribananta ( hubungan dengan orang lain atau masyarakat yang lebih luas) dalam kehidupan sehari-hari.
Sehingga “Dalihan na tolu” merupakan konsep yang sangat penting sehingga menjadi pegangan hidup sehari-hari. Karenanya, dalam tata pergaulan dengan suku bangsa Batak nuansa kekeluargaan jadi terkesan sangat menyenangkan.
Lalu pepatah Batak yang lebih sakral seperti ungkapan “Tondi Mardongan Tondi”, yang artinya adalah roh yang satu bersama dengan roh yang lain. Adapun maknanya mengajarkan betapa pentingnya untuk memahami dan menghormati hubungan manusia dengan ruh dalam dimensi spiritual yang lebih bersifat religius.
Pepatah dalam berbagai suku bangsa Nusantara hingga Indonesia merdeka tetap terpelihara baik dari generasi ke generasi berikutnya, seperti pepatah Aceh yang mengatakan “Adat bak poteu Meureuhom, hukom bak Syech Abdurrauf”.
“Bumi anak sakato” atau “Wong kita galo dari Palembang. “Adat bersendi syarak, syarak bersendi kitabullah” dari Minangkabau, “Tri hita karana dari Bali.

One comment