Skip to content

Beragam Pepatah Suku Bangsa Nusantara, Menyiratkan Nilai Spiritual dan Religius

Oleh : Jacob Ereste
Banten, 1 Juli 2025

UNGKAPAN singkat yang memuat nasehat, petuah atau pengalaman yang hendak disampaikan kepada generasi berikutnya secara berkelanjutan disebut sebagai pepatah yang menggunakan bahasa lugas, singkat dan padat serta penuh makna yang dalam untuk direnungkan sebagai pegangan hidup dalam menghadapi tantangan.

Karena itu, pepatah dapat memberi semangat hidup yang gigih, ketekunan yang ajeg (konsisten) hingga sikap dan sifat yang tangguh menghadapi berbagai persoalan yang dapat dijadikan pegangan.

Pepatah dapat dikatagorikan sebagai sastra lisan — yang nyaris tidak pernah tertulis — kecuali untuk motto dari sebuah lembaga atau instansi tertentu yang menjadikannya sebagai semboyan untuk kelompok, masyarakat atau suatu lembaga dan instansi yang hendak mewujudkan dengan cara atau maksud yang terkandung dari pepatah yang dijadikan motto tersebut.

Atas dasar itulah, pepatah memiliki peran penting dalam membentuk atau membangun suatu budaya seperti yang termuat di dalam pepatah tersebut sebagai pedoman dalam menghadapi berbagai situasi kehidupan.

Lantaran itu kandungan filsafat dari pepatah yang dijadikan motto atau pegangan hidup ini memiliki nilai spiritual yang tinggi.

Baca Juga : 

HUT Bhayangkara Ke-79, Ini Pesan Kapolres dan Bupati Kaur

Esensi dari pepatah yang mengatakan “lebih baik menyalakan cahaya dari pada meratapi kegelapan” sungguh meyakinkan bahwa akan lebih baik berbuat — sekecil apapun — daripada hanya mengeluhkan atau mengkritik situasi kegelapan tersebut.

Karena dengan menyalakan cahaya yang sekecil apapun lebih bersifat konstruktif untuk melakukan perbaikan menuju perubahan yang lebih baik, meski dengan cara yang sangat lambat.

Sebab dengan melakukan keluh kesah atau kritik sekeras apapun tidak lebih baik daripada melakukan usaha menyalakan cahaya meski sekerlip lilin di kelam sunyi, seperti yang dikatakan penyair Chairil Anwar dalam karya puisi “Do’a” yang pernah ditulisnya semasa berjaya.

Syahdan, menurut para cerdik cendekia, pepatah akan mengajarkan kepada siapa saja yang ingin mengambil inisiatif positif untuk memperbaiki keadaan menuju perubahan.

Kecuali itu, pepatah dapat menuntun cara bertindak yang konstruktif — tidak merusak — seperti pepatah yang menyebut “menarik rambut yang terbenam di dalam adonan”.

Dalam pepatah “lebih baik menyalakan cahaya daripada meratapi kegelapan” jelas esensinya mengajarkan kepada setiap orang yang mau memahami dan melakukannya bahwa pilihan sikap untuk lebih proaktif, konstruktif dan inisiatif yang nyata untuk melakukan perubahan yang lebih baik — positif — adalah pilihan bijak yang sepatutnya dilakukan.

Pepatah umumnya bermakna universal. Karena, pepatah tidak dimonopoli oleh suku bangsa tertentu, tidak hanya di Nusantara, tidak pula di Indonesia sekarang atau bahkan oleh bangsa yang ada di dunia.

Article topics

One comment

Tinggalkan Balasan