Nusantara Mails | Kesehatan – Kepadatan payudara, Payudara normal mengandung lobulus yang menghasilkan susu dan saluran yang membawanya. Jaringan kelenjar ini mengandung konsentrasi sel payudara yang lebih tinggi daripada jaringan payudara lainnya sehingga membuat payudara padat.
Wanita dengan jaringan payudara yang lebih padat memiliki risiko lebih tinggi terkena kanker payudara karena terdapat lebih banyak sel yang dapat menjadi kanker.
Kepadatan payudara yang tinggi juga mempersulit diagnosis benjolan payudara menggunakan mammogram. Wanita yang lebih muda cenderung memiliki payudara yang lebih padat dan seiring bertambahnya usia, jaringan kelenjar di payudara berkurang dan digantikan oleh lemak yang mengurangi kepadatannya.
Mengevaluasi kepadatan payudara
Para peneliti dari Fakultas Kedokteran Universitas Washington di St. Louis dan Brigham dan Rumah Sakit Wanita di Boston, menganalisis data kesehatan selama 10 tahun di antara 947 wanita di wilayah St. Louis yang menyelesaikan mammogram rutin. Mammogram adalah gambar sinar-X payudara yang digunakan dokter untuk mencari tanda-tanda awal kanker payudara.
Baca Juga:
Masih Mau Gengsi-gengsian? Inspirasi Wanita Berparas Cantik Buruh Pengangkut Semen
Seperti Apa Sih.. Maksud Kecantikanmu? Dan Tips Cantik Alami
Muncul Istilah “CB” di Sosmed Ternyata Vulgar Banget
Para wanita dalam penelitian ini direkrut dari November 2008 hingga April 2012, dan mereka menjalani mammogram hingga Oktober 2020. Rata-rata usia para peserta adalah sekitar 57 tahun.
Di antara para wanita, ada 289 kasus kanker payudara yang terdiagnosis, dan para peneliti menemukan bahwa kepadatan payudara lebih tinggi pada awal studi untuk wanita yang kemudian mengembangkan kanker payudara dibandingkan dengan mereka yang tetap bebas kanker.
Para peneliti juga menemukan bahwa ada penurunan yang signifikan dalam kepadatan payudara di antara semua wanita selama 10 tahun, terlepas dari apakah mereka kemudian mengembangkan kanker payudara, tetapi tingkat penurunan kepadatan dari waktu ke waktu secara signifikan lebih lambat di antara payudara yang terkena kanker. kemudian didiagnosis.
“Studi ini menemukan bahwa mengevaluasi perubahan longitudinal pada kepadatan payudara dari mammogram digital dapat menawarkan alat tambahan untuk menilai risiko kanker payudara dan strategi pengurangan risiko selanjutnya,” tulis para peneliti.
Tidak hanya kepadatan payudara yang diketahui sebagai faktor risiko kanker payudara, jaringan payudara yang padat dapat membuat mammogram lebih sulit dibaca.
“Ada dua masalah di sini. Pertama, kepadatan payudara dapat mempersulit untuk ‘melihat menembus’ payudara sepenuhnya pada mammogram, seperti melihat melalui kaca buram. Jadi, akan lebih sulit untuk mendeteksi kanker payudara,” kata Dr. Hal Burstein, penyelidik klinis di Pusat Onkologi Payudara di Dana-Farber Cancer Institute , yang tidak terlibat dalam studi baru tersebut, dalam sebuah email.
Kedua, kepadatan payudara sering dianggap mencerminkan paparan estrogen atau tingkat estrogen pada wanita, dan semakin besar paparan estrogen, semakin besar risiko terkena kanker payudara.
Pada bulan Maret, Badan Pengawas Obat dan Makanan AS menerbitkan pembaruan peraturan mamografinya , yang mewajibkan fasilitas mamografi untuk memberi tahu pasien tentang kepadatan payudara mereka.
Kepadatan payudara dapat memiliki efek masking pada mamografi, di mana akan lebih sulit untuk menemukan kanker payudara di area jaringan payudara yang padat, tulis Jiang dalam emailnya.
“Bahkan ketika Anda menghilangkan masalah untuk menemukannya, kepadatan payudara merupakan faktor risiko independen untuk mengembangkan kanker payudara. Meskipun ada banyak data yang mengatakan bahwa jaringan payudara yang padat merupakan faktor risiko, alasannya tidak jelas,” katanya. “Mungkin perkembangan jaringan padat dan kanker terkait dengan proses biologis atau pengaruh hormonal yang sama.”
Meski merupakan salah satu jenis kanker yang paling umum, sebagian besar wanita masih tak begitu mengenal dan medulikan faktor-faktor risiko kanker payudara.
Seperti pada kanker lainnya, ada beberapa faktor yang bisa meningkatkan risiko kanker payudara. Sebagian dari faktor risiko tersebut sudah adalah faktor genetik, gaya hidup tak sehat, berat badan tak sehat, serta kebiasaan mengonsumsi alkohol dan merokok. Faktor risiko kanker payudara lainnya adalah densitas atau kepadatan payudara.
Berdasarkan studi terbaru yang dipublikasikan dalam JAMA Network OpenTrusted Source, diketahui bahwa pemahaman banyak wanita terhadap faktor risiko payudara masih belum cukup baik.
Sebagai contoh, sebagian besar wanita yang terlibat dalam studi ini mengetahui bahwa riwayat keturunan atau genetik merupakan salah satu faktor risiko dari kanker payudara. Namun, hanya sedikit wanita yang menyadari bahwa densitas payudara juga merupakan faktor risiko dari kanker payudara.
Padahal, kedua faktor tersebut dapat meningkatkan risiko kanker payudara secara signifikan. Sebagai contoh, riwayat kanker payudara pada keluarga dekat bisa meningkatkan risiko kanker payudara sebanyak dua kali lipat. Sedangkan densitas payudara yang tinggi dapat meningkatkan risiko kanker payudara sebesar 1,2-4 kali lipat.
Berdasarkan studi terbaru yang dipublikasikan dalam JAMA Network OpenTrusted Source, diketahui bahwa pemahaman banyak wanita terhadap faktor risiko payudara masih belum cukup baik. Sebagai contoh, sebagian besar wanita yang terlibat dalam studi ini mengetahui bahwa riwayat keturunan atau genetik merupakan salah satu faktor risiko dari kanker payudara.
Berita Terkait
Namun, hanya sedikit wanita yang menyadari bahwa densitas payudara juga merupakan faktor risiko dari kanker payudara.
Padahal, kedua faktor tersebut dapat meningkatkan risiko kanker payudara secara signifikan. Sebagai contoh, riwayat kanker payudara pada keluarga dekat bisa meningkatkan risiko kanker payudara sebanyak dua kali lipat. Sedangkan densitas payudara yang tinggi dapat meningkatkan risiko kanker payudara sebesar 1,2-4 kali lipat.
Selain itu, hampir sepertiga wanita juga meyakini bahwa tak ada upaya yang bisa dilakukan untuk menekan risiko kanker payudara yang mereka miliki. Padahal, ada banyak faktor risiko kanker payudara yang sebenarnya dapat dimodifikasi.
Chief Patient Officer dari American Cancer Society, dr Arif Kamal, merasa tak terkejut atas temuan dalam studi ini. Menurut dr Kamal, densitas payudara merupakan istilah yang cukup asing bagi orang awam karena sudah jarang digunakan sejak lama.
“Jadi sebagai faktor risiko, (densitas payudara) merupakan sesuatu yang relatif baru dipahami,” jelas dr Kamal, seperti dilansir Medical News Today.
Densitas payudara yang tinggi bisa meningkatkan risiko kanker payudara karena payudara yang lebih padat atau besar memiliki jaringan fibrosa dan glandular yang lebih banyak dibandingkan jaringan lemaknya. Dr Kamal mengatakan, jaringan glandular merupakan kelenjar yang berfungsi menghasilkan ASI pada wanita.
“Bagian (payudara) yang bisa berubah menjadi kanker, pada satu dari delapan wanita, adalah bagian glandular,” kata dr Kamal.
Dr Kamal mengatakan, densitas payudara wanita bisa mengalami perubahan di sepanjang kehidupan mereka. Perubahan ini dapat dipengaruhi opeh banyak faktor, seperti status menstruasi serta kista. Pengukuran densitas payudara juga tak bisa dilakukan secara mandiri, namun melalui pemeriksaan dengan mammogram.
Dr Kamal menekankan, densitas payudara yang tinggi tak serta merta membuat seorang wanita pasti akan terkena kanker payudara. Namun, semakin banyak faktor risiko lain yang menyertai, semakin besar pula risiko kanker payudara yang perlu diwaspadai oleh wanita.
“Bila densitas payudara merupakan satu-satunya faktor risiko, kita masih mengelompokkan mereka ke dalam kategori risiko lebih rendah. Bila ada faktor-faktor risiko lain (yang juga dimiliki wanita), itu mengindikasikan risiko yang lebih tinggi,” ujar dr Kamal.
Meski sebagian wanita meyakini bahwa risiko kanker payudara tak bisa ditekan, manajer informasi kesehatan senior di Cancer Research UK, Claire Knight, mengatakan hal yang sebaliknya. Meski tak semua faktor risiko kanker payudara bisa dimodifikasi, ada faktor-faktor risiko kanker payudara yang masih dapat diperbaiki.
“Ada hal-hal yang bisa kita upayakan untuk menurunkan risiko kanker payudara kita, seperti menjaga berat badan dalam rentang sehat, aktif secara fisik, dan menghindari alkohol,” ujar Knight.
Hal serupa juga diungkapkan oleh Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) di Amerika Serikat (AS). Berikut ini adalah lima tips yang direkoemndasikan oleh CDC untuk menekan risiko kanker payudara:
1. Menjaga berat badan dalam rentang sehat
2. Membiasakan pola hidup aktif secara fisik
3. Mengurangi atau menghindari alkohol
4. Diskusikan risiko kanker payudara sebelum menjalani terapi pengganti hormon atau sebelum menggunakan obat pengontrol kehamilan
5. Menyusui bayi bila memungkinkan

One comment