Skip to content

Tragedi Kelam Tanjung Priok 1984, Jamaah Masjid Tegur Tentara Berujung Pada Pembantaian

NUSANTARAMAILS.COM – Melansir dari berbagai sumber, tragedi kemanusiaan terjadi pada 12 September 1984 di Tanjung Priok, Jakarta.

Dalam tragedi ini, banyak keluarga yang kehilangan pencari nafkah, anak bahkan orang tua. Bahkan, ada yang hingga kini tak mengetahui dimana kubur para korban.

Pada 12 September 1984, ribuan warga Tanjung Priok, sebagian besar kaum muslimin, turun ke jalan setelah mendengar kabar bahwa jamaah masjid ditangkap hanya karena menegur seorang tentara. Suasana awalnya penuh semangat keagamaan, mereka membawa takbir, berharap suara mereka didengar.

Namun, di jalanan gelap menuju markas militer, bayangan laras senjata sudah mengintai. Para ibu menahan anak-anak mereka agar tetap di rumah, tapi sebagian pemuda tetap pergi,

“Kami hanya ingin menuntut keadilan, Bu,” kata seorang pemuda kepada ibunya. Itu adalah kata terakhir yang didengar sang ibu sebelum anaknya tak pernah kembali.

Ketika massa semakin dekat, suara peringatan terdengar, lalu tiba-tiba rentetan peluru memecah malam. Teriakan takbir berubah menjadi jeritan. Orang-orang berjatuhan, sebagian mencoba menolong yang terluka, tapi peluru tidak mengenal belas kasihan.

Baca Juga : 

Pisah Sambut Dandim 0408 BSK, Ini Kesan Bupati Kaur

Seorang saksi, yang saat itu berusia belasan tahun, bercerita:

“Saya melihat teman saya jatuh tertembak di depan mata. Saya ingin menarik tubuhnya, tapi peluru terus berdatangan. Saya berlari secepat mungkin, meninggalkan dia. Sampai hari ini, rasa bersalah itu masih menghantui,” tuturnyam

Jalanan dipenuhi tubuh-tubuh yang tergeletak. Truk-truk militer kemudian datang mengangkut korban. Banyak keluarga tidak pernah tahu di mana jasad anak, suami, atau saudara mereka dimakamkan.

Ada yang pulang dengan baju berlumuran darah anaknya, ada yang menunggu berhari-hari di rumah sakit tanpa kabar.

Seorang ibu tua pernah berkata dalam kesaksian :

“Saya mencari anak saya ke pos, ke rumah sakit, ke kantor polisi. Mereka bilang tidak ada. Tapi saya tahu dia ditembak malam itu. Sampai sekarang, kuburnya pun saya tidak tahu,” ucapnya lirih.

Luka yang Tak Pernah Sembuh

Bagi masyarakat Tanjung Priok, malam itu bukan sekadar bentrokan, melainkan pembantaian.

Luka emosionalnya jauh lebih panjang daripada hitungan korban. Banyak keluarga kehilangan pencari nafkah, anak-anak tumbuh dengan rasa takut dengan bayangan trauma mendalam.(**)

Article topics

One comment

Tinggalkan Balasan