Oleh: Edi Susanto, S.H. Ketua PKL P3MB
Di jantung Kota Bengkulu, di balik hiruk-pikuk rutinitas warga dan kokohnya bangunan modern, berdirilah para pejuang rupiah pedagang kecil di Pasar Minggu (P3MB).
Setiap pagi, mereka membuka lapak, menggelar dagangan, dan menaruh harapan pada rezeki yang mungkin datang.
Namun, belakangan ini, harapan itu perlahan dilenyapkan oleh suara penggusuran yang semakin nyaring.
Pagi-pagi buta, saat matahari belum tinggi, mobil-mobil dinas berdatangan, Dishub, Satpol PP, hingga Dinas Kebersihan dan APH (Kepolisian),
Di bawah dalih penertiban dan program 100 hari kerja wali kota, mereka datang bukan untuk membina, tetapi untuk menggusur. Dan kami, rakyat kecil, lagi-lagi menjadi pihak yang paling rentan, paling mudah diabaikan.
Kami tak menolak penataan. Kami tidak anti pada aturan. Tapi kami menuntut kebijakan yang manusiawi dan berpihak.
Baca Juga :
Audiensi ke Bawaslu, GP Ansor Dorong Bawaslu Bersikap Netral dan Bebas Intervensi
Jangan paksakan relokasi tanpa kajian matang, tanpa transparansi, dan tanpa rasa keadilan. Pasar Minggu kian menyempit, karena tekanan bangunan Mega Mall yang terus meluas.
Maka kami minta solusi, geser tembok mall itu 15 meter ke dalam, beri kami ruang untuk hidup.
Kami telah menyurati banyak pihak, instansi daerah, lembaga pusat, hingga Presiden Republik Indonesia.
Tapi suara kami seperti berdesing di ruang hampa. Tak ada jawaban. Tak ada empati.
Penasihat hukum kami dari Kantor BPS And Partners, Bayu Purnomo Saputra, S.H., dan M.Tri Candra Rista, S.H., Mereka dengan tegas menyuarakan hal ini.
“Penataan tanpa pertimbangan asas hukum dan asas keadilan, hanya akan menjadi bentuk pemaksaan.” Kami bukan provokator. Kami hanya rakyat kecil yang ingin tetap hidup, tetap berdagang.
Pemerintah seharusnya menjadi pelindung, bukan penggusur. Jika benar Bengkulu ingin SEMARAK, maka benahilah pasar dengan konsep, bukan kekuasaan.
Gunakan diskresi dengan bijak, sebagaimana diatur dalam UU No. 30 Tahun 2014 tentang Administrasi Pemerintahan. Jangan tabrak norma dan rasa.
Opini ini bukan seruan perlawanan. Ini jeritan hati para PKL, Karena terlalu lama kami merasa ditindas dalam diam.
Kami, para pejuang rupiah, hanya ingin didengar. Bukan ditertibkan tanpa dialog, bukan direlokasi tanpa kejelasan.
Kami ingin kota ini tumbuh, tapi tumbuh bersama rakyatnya, bukan di atas air mata mereka.(**)

One comment