NUSANTARAMAILS.COM – Satu lagi, aparat keamanan negara ini hengkang dan memilih menjadi tentara bayaran Rusia. Sebelumnya, eks Marinir Angkatan Laut (AL) Indonesia, Satria Kumbara lebih dulu bergabung dengan tentara Rusia.
Kini giliraj mantan pasukan elit Polri, Korp Brimob Bripda Muhammad Rio ikut memilih jalan menjadi tentara bayaran Rusia.
Sumpah setia kepada negara pun ditinggalkannya demi mengejar impian gaji fantastis Rp 42 juta perbulan serta bonus dua juta rubel atau setara Rp 420 juta.
Ini adalah realita pahit yang terpampang, penghiatan telanjang dari sosok mantan Brimob ini yang memilih bendera Rusia ketimbang Merah Putih.
Ini bukan sekadar pelanggaran disiplin ini adalah pukulan mematikan bagi kedaulatan bangsa. Motifnya jelas, “Uang”. Godaan gaji fantastis ditambah bonus 2 Juta Rubel (sekitar Rp 420 Juta) dianggap lebih bernilai daripada integritas aparatur negara.
Baca Juga :
Bukankah ini membuktikan bahwa ada kerentanan mendasar dalam jaminan kesejahteraan aparat bangsa ini, yang membuat mereka sangat rentan terhadap rayuan musuh.
Kasus Rio, yang mengulang jejak pecatan Marinir Satria Kumbara, mengirimkan sinyal bahaya ekstrem. Aparat yang seharusnya melindungi kini berpotensi menjadi ancaman, menjual keahlian militer mereka kepada entitas asing.
“Kita harus menuntut jawaban tegas: Apakah kita akan membiarkan loyalitas dibanderol harga, membuka kotak pandora yang pernah dialami Venezuela—pengkhianatan bermotif kesejahteraan?” ungkap salah seorang warga.
Jangan biarkan pengkhianatan ini hanya berakhir di sidang KKEP. Ini adalah ujian bagi negara. Seberapa mahal harga kedaulatan bamgsa, dan siapkah negara menghadapi fakta bahwa musuh terbesar mungkin bersembunyi di balik seragam sendiri?
Jika aparat keamanan sudah bisa dibeli, siapa lagi yang tersisa untuk membela bangsa?.
Masuknya Eks Brimob ke tentara Rusia ini menunjukkan bahwa integritas sebagai anak bangsa masih mudah dikalahkan dengan godaan gaji besar.(**)

One comment