NUSANTARAMAILS.COM – Amangkurat III naik takhta, menggantikan ayahnya yang berpulang di istana.
Raden Mas Sutikna nama aslinya,
Sunan Mas begitu orang memanggilnya.
Namun tak semua bersorak gembira, karena Pangeran Puger yang mereka dambakan.
Pangeran Kencet, julukan yang melekat, sebab langkahnya tak tegap berjejak.
Tumitnya cacat, jalannya pincang,
tetapi nasibnya lebih rapuh dari itu.
Di dalam istana, angin berubah arah, kerabat terpecah, bara menyala.
Bagaikan Kurawa dan Pandawa,
persaudaraan retak di ujung pedang.
Baca Juga :
Blusukan Ala Bupati Kaur, Bagi Uang Bukoan Kepada Kuli Bangunan
Amangkurat III melepaskan istrinya,
Raden Ayu Himpun, perempuan setia.
Ia adik Raden Ayu Lembah,
yang dihukum mati dalam tuduhan nista.
Darah Puger mengalir di tubuhnya,
namun takluk pada murka suaminya. Cinta pun musnah dalam dendam, tak lagi dipandangnya keluarga.
Pangeran Puger tak tinggal diam,
putranya, Suryakusuma, menantang perang.
Dengan pasukan ia menggempur istana, membawa badai ke jantung Kartasura.
Amangkurat III gentar, hatinya gundah, lalu menyandera Pangeran Puger dan keluarga.
Namun Patih Sumabrata berbisik lirih, “Lepaskan mereka, biar tak membakar negeri.”
Amangkurat III tunduk, membiarkan mereka pergi, tetapi tipu daya mengintai di kegelapan.
Diam-diam ia kirim pemburu darah,
namun Pangeran Puger telah jauh melangkah.
Ke Semarang mereka berlindung,
memohon pada Belanda yang menunggu celah.
VOC menyambut dengan senyum licik, tak pernah memberi tanpa meminta.
Pangeran Puger pun diangkat menjadi raja, Sunan Pakubuwono I gelar barunya.
Cakraningrat dari Madura ikut bersekutu, bersama mereka menabuh genderang perang.
1705: Keruntuhan Sang Raja
Langit Kartasura kelam dan muram,
perang meledak di halaman istana.
Amangkurat III melarikan diri,
membawa pusaka, menyelamatkan diri.
Ponorogo menjadi peraduan,
di sanalah Untung Surapati mengulurkan tangan.
Tetapi takdir tak memihak lama,
Surapati tersungkur, ajal menjemputnya.
Amangkurat III kian sebatang kara,
dikejar musuh, diburu masa. Dari Malang ke Kediri, dari Blitar ke Surabaya, tak ada tanah yang sudi menaunginya.
Hingga akhirnya, ia menyerah jua,
di depan Belanda, ia letakkan senjata.
Di Batavia ia mendekam,
menatap laut yang tak bertepi.
Tetapi nasib masih mengembuskan badai, ia dibuang ke negeri jauh,
Sri Lanka yang sunyi.
Di sana ia hidup sebagai rakyat biasa, hingga ajal memanggilnya tanpa mahkota.
Namun di Setono Gedong, Kediri,
ada makam yang menyimpan tanda tanya.
Benarkah raja bersemayam di sana,
atau hanya legenda yang menolak sirna?
Sumber : Babad Tanah Jawi

One comment