Para prajurit Infanteri Sumatera ini semuanya memegang senjata M1 Garrand, M1 Karabin (Jungle Lipat), senjata otomotatis Thompson, senjata berat mortir 60 mm dan 80 mm. 2 peleton Kompi A Brimob Rangers didaratkan di kawasan pantai Ipoh pada bulan Mei 1960 dengan kapal pendarat milik Polairud dengan kode lambung 801.
Seperti standar pendaratan operasi ampibi, pendaratan diawali dengan tembakan senapan mesin 12,7 dari kapal pendarat untuk memastikan tidak ada pemberontak yang menguasai pantai. Setelah penembakan dilakukan, baru satu kompi pasukan Brimob Rangers mendarat dengan aman.
Kompi A Brimob Rangers ini dikirim ke Sumatera untuk memback up Brimob Bengkulu yang beberapa minggu sebelumnya di bantai oleh batalyon Nawawi. Satu batalyon Brimob Bengkulu ini mengalami jumlah korban yang sangat besar karena serangan mendadak (raid) dari pemberontak PRRI.
Markas Brimob Bengkulu ini sudah mengibarkan bendera putih tanda menyerah dan di dalam markas hanya tinggal tersisa beberapa anggota yang selamat dari serangan dadakan tersebut.
Pasca pendaratan 2 kompi Brimob Rangers melakukan konsolidasi di pantai dan langsung mengejar gerombolan pemberontak yang berlokasi di kecamatan Ipoh. Mereka kemudian bergabung dengan satu batalyon TNI AD dari Pekanbaru dibawah komando Letkol Dani Effendi.
Oleh Danyon Letkol Dani Effendi, Brimob Rangers difungsikan sebagai peleton pengintai dengan jarak 5 kilometer di depan Batalyon Infanteri. Masuk perbatasan Sumatera Selatan, peleton 1 bertemu dengan kompi terakhir Batalyon Ahmad Lubis, dan terjadi kontak senjata pertama.
Anehnya, posisi peleton 1 justru mengejar satu kompi pemberontak. Pada saat hari menjelang malam, ada teriakan dari pasukan pemberontak “Istirahat makan….!!!”. Sangat aneh, pada saat kontak senjata seru, musuh menyerukan untuk istirahat dulu.

Leave a comment