Faktor risiko lain dapat mencakup obat-obatan tertentu, menopause dini, indeks massa tubuh rendah (BMI), pengobatan kanker, dan genetika.
Anda dapat mengimbangi risiko ini dengan meningkatkan asupan kalsium, tetap aktif berolahraga, serta menghindari penggunaan rokok dan alkohol secara berlebihan.
7. Sindrom ovarium polikistik (PCOS)
Sindrom ovarium polikistik (PCOS) terjadi karena gangguan hormon. Salah satu hasilnya adalah kista, yakni kantung berisi cairan yang berkembang di ovarium.
Wanita yang mengalami obesitas lebih cenderung memiliki PCOS. Wanita dengan PCOS berisiko terkena diabetes. Gejalanya mungkin termasuk berikut ini.
- Infertilitas.
- Nyeri panggul.
- Pertumbuhan rambut berlebih di wajah, dada, perut, ibu jari, atau jari kaki.
- Kebotakan atau penipisan rambut.
- Jerawat, kulit berminyak, atau ketombe.
- Bercak coklat tua atau hitam pada kulit.
8. Penyakit autoimun
Penyakit autoimun terjadi ketika sistem imun menyerang sel-sel tubuh yang sehat. Sistem imun ini menganggap sel-sel tubuh tersebut sebagai ancaman seperti halnya sebuah virus.
Para peneliti menyatakan bahwa penyakit autoimun lebih sering menyerang wanita. Bahkan, seiring berjalannya waktu, kasus penyakit ini pada wanita pun terus meningkat.
Meski terkadang pertandanya berbeda-beda, tapi sebagian besar gejalanya meliputi:
- kelelahan,
- demam ringan,
- sakit badan,
- iritasi kulit, dan
- vertigo.
Untuk mengatasinya, anda dapat melakukan beberapa hal seperti berikut ini:
- mengonsumsi lebih sedikit gula,
- mengurangi makanan berlemak,
- menurunkan stres, serta
- mengurangi asupan yang dapat menjadi pemicu gejala.
Namun, pertahanan terbaik melawan penyakit autoimun adalah deteksi sejak dini.
Setiap perempuan memiliki kebutuhan kesehatan yang unik, oleh karena itu, penting untuk berbicara dengan profesional kesehatan untuk mendapatkan saran dan perawatan yang spesifik sesuai kondisi dan kebutuhan individu.

2 comments