KAUR || NUSANTARAMAILS.COM – Di balik seragam cokelat yang setiap hari berjibaku di lapangan, nasib personel Satuan Polisi Pamong Praja Kabupaten Kaur kerap berada di posisi serba salah.
Saat berhasil menertibkan hewan ternak yang berkeliaran di jalan protokol dan fasilitas umum, nyaris tak ada apresiasi. Namun ketika masih ditemukan sapi atau kambing lepas, makian dan kritik tajam justru deras menghampiri.
Fenomena ini kembali mencuat setelah sejumlah warga mengeluhkan ternak yang berkeliaran di beberapa titik jalan utama dan kawasan perkantoran. Hewan-hewan tersebut dinilai membahayakan pengendara dan merusak keindahan kota.
Ironisnya, menurut sumber internal, dalam beberapa bulan terakhir Satpol PP Kaur sudah berulang kali melakukan penertiban, bahkan mengamankan puluhan ekor ternak dan memanggil pemiliknya untuk diberikan pembinaan. Namun upaya itu seakan tak terlihat ketika satu atau dua ekor kembali lolos dari pengawasan.
Baca Juga :
“Kami ini seperti berdiri di tengah. Ketika ditertibkan, pemilik ternak marah. Ketika masih ada yang berkeliaran, masyarakat umum juga marah,” ujar salah satu petugas yang enggan disebutkan namanya.
Penertiban hewan ternak bukan perkara mudah. Selain keterbatasan personel dan armada, petugas juga dihadapkan pada resistensi sebagian pemilik ternak yang merasa keberatan jika hewannya diamankan. Tidak jarang terjadi adu argumen di lapangan.
Padahal, keberadaan ternak yang dilepas bebas jelas melanggar ketentuan daerah dan berpotensi menimbulkan kecelakaan lalu lintas. Dalam beberapa kasus sebelumnya, pengendara motor nyaris celaka akibat sapi yang tiba-tiba melintas di malam hari.
Kondisi ini memunculkan pertanyaan: apakah penegakan aturan hanya menjadi beban Satpol PP semata? Tanpa kesadaran pemilik ternak dan dukungan masyarakat, penertiban akan selalu menjadi pekerjaan yang tak pernah selesai.
Sejumlah tokoh masyarakat menilai perlu ada pendekatan lebih tegas sekaligus persuasif. Penegakan sanksi harus berjalan, namun edukasi dan pembinaan kepada peternak juga tak boleh diabaikan.
Di sisi lain, Pemkab Kaur diharapkan memberi dukungan maksimal, baik dari sisi anggaran, sarana penunjang, hingga regulasi yang lebih kuat agar upaya penertiban memiliki efek jera.
Nasib Satpol PP Kaur hari ini seakan menggambarkan dilema klasik penegak aturan di daerah: ketika berhasil, dianggap biasa. Ketika ada celah, langsung menjadi sasaran.
Di tengah kritik dan tekanan, mereka tetap berdiri menjalankan tugas, berharap suatu hari kesadaran kolektif masyarakat lebih kuat daripada sekadar kemarahan sesaat.(yti)

One comment