Ia percaya komunisme adalah satu-satunya jalan untuk membebaskan kaum tani dan buruh dari belenggu feodalisme. Di Jakarta, ia naik menjadi anggota Politbiro PKI, duduk sejajar dengan tokoh-tokoh besar seperti Aidit dan Njoto.
Keduanya sama-sama ingin Indonesia merdeka dan adil, tapi dengan cara dan ideologi yang bertolak belakang.
Bayangkan ketegangan yang mungkin pernah terjadi ketika mereka duduk satu meja makan keluarga. Sang adik, S. Parman, bersuara tenang namun tajam.
“Bang, jalan yang kau pilih berbahaya. PKI itu bukan solusi, mereka hanya akan membawa bangsa ini ke jurang.”
Sakirman menatap balik dengan api dalam mata:
“Man, kau terlalu percaya pada jenderal-jenderal itu. Mereka hanya menjaga kepentingan segelintir elit. Rakyat butuh revolusi. Dan revolusi tak bisa menunggu.”
Perdebatan mungkin berakhir dengan keheningan, tetapi jarak di antara keduanya makin lebar.
Tahun 1965 menjadi titik tragis. S. Parman, sebagai intelijen, adalah salah satu yang paling keras menentang gerakan PKI.
Karena itu namanya masuk daftar hitam dalam operasi G30S. Pada dini hari 1 Oktober 1965, pasukan penculik mendatangi rumahnya.
Ia ditodong, digelandang, lalu hilang menuju Lubang Buaya. Tubuhnya ditemukan tiga hari kemudian bersama jenderal lain, penuh luka, dimasukkan ke dalam sumur tua.
Sementara itu, Sakirman masih berada dalam lingkaran elit PKI yang segera diburu setelah peristiwa gagal kudeta tersebut.
Nasibnya juga berakhir kelam — ia ditangkap dan dieksekusi pada tahun-tahun penuh gejolak itu.

One comment