BENGKULU || NUSANTARAMAILS.COM – Menjelang Musyawarah Daerah (Musda) Partai Golkar Provinsi Bengkulu suhu politik internal mulai terasa panas. Dalam politik, tidak ada keputusan yang benar-benar sunyi. Selalu ada pesan yang disembunyikan di balik diam.
Seperti halnya, persidangan yang mendudukan Eks Gubernur Bengkulu, Dr drh H Rohidin Mersyah, MMA yang notobenenya ketua DPD I Partai Golkar Bengkulu juga menyimpan banyak pesan tersembunyi.
Munculnya sejumlah nama yang semakin menguat sebagai calon pengganti Rohidin Mersyah pun bermunculan dan banyak melahirkan prediksi publik.
Namun, internal partai berlambang pohon beringin ini harus mewaspadai adanya gejala kudeta halus yang dilakukan oleh oknum-oknum tertentu untuk mencuri simpati dan dukungan dari kader partai ditingkat bawah.
Sebagai warga yang mencermati perkembangan politik lokal, banyak tanda tanya, apa yang sebenarnya sedang terjadi? Jika ini sekadar langkah organisatoris, mengapa harus dilakukan secara senyap?
Ada beberapa opini yang diluncurkan untuk mempengaruhi kepercayaan kader dan simpatisan partai terhadap sejumlah nama yang akan maju sebagai kandidat ketua DPD I Partai Golkar Bengkulu.
Situasi ini menjadi semakin mengkhawatirkan karena akan berpengaruh pada elektabilitas partai itu sendiri. Akan banyak muncul asumsi negatif terhadap partai yang dikaitkan dengan kasus hukum yang saat ini menjerat ketua DPD, Rohidin Mersyah.
Rohidin tersandung kasus pungutan dan gratifikasi pencalonannya sebagai Gubernur Bengkulu. Gratifikasi dari sejumlah pejabat, pengusaha serta internal partai.
Publik bertanya apakah dengan munculnya gorengan politik dipersidangan Rohidin ini bertujuan untuk memecah konsentrasi kandidat calon ketua DPD I partai beringin tersebut.
Mirisnya, gorengan politik ini disinyalir keluar dari internal partai itu sendiri yang bersaing menduduki jabatan ketua DPD I Partai Golkar.
Baca Juga :
Bank Indonesia Cabut 4 Uang Kertas, Segera Tukar Sebelum Terlambat
Tapi bagi yang paham logika kekuasaan, langkah senyap seperti ini biasanya bukan tanpa motif besar di belakangnya.
Langkah ini pun terasa ganjil, apalagi dilakukan menjelang Musda—ajang strategis dalam peta perebutan pengaruh di internal partai.
Dalam politik, momen adalah segalanya. Dan momen ini seolah dipilih dengan presisi. Terlalu cermat untuk disebut sebuah kebetulan.
Sebagai mantan bupati dua periode dan tokoh yang membesarkan Partai Golkar di Kabupaten Kaur, Gusril Pausi bukanlah sosok biasa.
Tapi nyatanya, gorengan politik ini terjadi dalam sunyi, tanpa perlawanan dan tanpa klarifikasi. Terkesan dilakukan di lorong gelap organisasi, tanpa suara apapun guna melemahkan jelang Musda.

One comment