KAUR || NUSANTARAMAILS.COM –
Di tengah derasnya arus kehidupan yang kerap menuntut pengakuan, ada satu pesan sederhana namun menampar kesadaran “jangan cari benarmu, carilah salahmu dan jika ketemu salahmu maka benarkan salahmu”. Kalimat itu bukan sekadar rangkaian kata, melainkan cermin yang mengajak setiap orang bercakap dengan dirinya sendiri.
Dalam berbagai ruang kehidupan—baik birokrasi, organisasi, pekerjaan, hingga hubungan sosial— kita sering terjebak dalam kebutuhan untuk selalu tampak benar.
Padahal, keberanian mengakui kesalahan justru menjadi langkah pertama menuju perbaikan. Banyak persoalan lahir bukan karena seseorang salah, tetapi karena enggan mengakui salah.
Baca Juga :
Pesan ini kembali mencuat dalam berbagai diskusi publik belakangan, terutama ketika banyak kebijakan, pelayanan, dan keputusan di pemerintahan menjadi sorotan. Kesadaran untuk menemukan kesalahan diri menjadi penting agar setiap lembaga maupun individu tidak terjebak dalam sikap defensif yang justru menghambat kemajuan.
Mengakui salah bukan berarti lemah. Justru sebaliknya, itu adalah tanda kedewasaan dan integritas. Mereka yang berani mengevaluasi diri akan lebih mudah memperbaiki langkah, memperkuat kepercayaan publik, dan membangun lingkungan yang sehat serta transparan.
Lebih jauh, pesan ini juga menjadi pengingat bagi para pemimpin. Di era keterbukaan seperti sekarang, masyarakat tidak lagi membutuhkan pemimpin yang selalu tampil sempurna, melainkan yang mau mendengar, mau belajar, dan mau membenarkan kekurangan.
Pada akhirnya, kalimat tersebut bukan hanya nasihat, tapi prinsip hidup: bahwa kebenaran bukanlah hasil dari pembenaran diri, melainkan dari keberanian menata ulang kesalahan. Jika setiap orang mempraktikkannya, bukan tidak mungkin iklim sosial dan birokrasi kita menjadi lebih jujur, lebih manusiawi, dan lebih maju.(yti)

Leave a comment