Prof. Nazarudin Umar MA, selaku Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta berkisah tentang pengalaman yang dialaminya bersama tokoh dan pemuka agama dari berbagai agama di dunia. “Mereka sangat mengapresiasi kerukunan hidup beragama di Indonesia, sehingga Uskup akan berkunjung ke Indonesia, sekalian menyaksikan simbol ikatan silaturahmi umat beragama di Indonesia yang ditandai adanya terowongan di bawah tanah yang menjadi jalan penghubung antara Masjid Istiqlal dengan Katedral”, kata Nazarudin Umar seraya berkisah tentang sejarah singkat dari keberadaan terowongan silaturahmi itu.
Lihat Juga :
Cegah Stunting, Pemdes Padang Kedondong Salurkan Bantuan Susu Formula Untuk Balita dan Ibu Hamil
Yang pasti, diskusi dan sinar tentang kerukunan hidup antar umat beragama di Indonesia telah usai. Sekarang ini, umat beragama di Indonesia telah melakukan langkah nyata membangun kerukunan dan toleransi antar umat beragama, seperti acara dialog ramadhan maupun membangun fasilitas parkir yang dapat digunakan secara bersama, ketika memerlukannya. Sehingga ketertiban dan kenyamanan di sekitar Katedral dan Masjid Istiqlal dapat mencerminkan ketertiban serta kenyamanan bagi umat beragama saat menunaikan ibadah secara tertib dan harmoni dengan lingkungan sekitarnya.
Cerita tentang simbol dari jalinan silaturahmi antar umat beragama di Jakarta, mulanya berasal keinginan pemerintah hendak merenovasi Masjid Istiqlal, ungkap Imam Besar Masjid yang menjadi bagian dari kebanggaan warga Ibu Kota Jakarta. Keinginan pemerintah ingin melakukan renovasi terhadap Masjid Istiqlal yang sudah terbilang tua usianya, disambut oleh Nazarudin Umar selaku Imam Besar Masjid Istiqlal dengan mengajukan usulan, betapa pentingnya ruang parkir dan terowongan dibawah yang menghubungkan Masjid Istiqlal dengan Katedral. Karena sejak awal dibangun Masjid yang menjadi bagian dari kebanggaan Indonesia, karena berada di Ibu Kota Negara, maka hasrat pemerintah untuk merenovasi tempat ibadah umat Islam di Jakarta yang relatif megah ini, disambut Nazarudin Umar dengan mengajukan gagasannya bahwa melakukan renovasi bangunan masjid yang relatif tua usianya ini, sangat perlu dilakukan. Setidaknya untuk instalasi listriknya perlu segera diganti agar tidak sampai mengundang bahaya kebakaran.
Namun begitu, yang tidak kalah penting dari rencana renovasi Masjid Istiqlal yang dibangun semasa pemerintahan Presiden Soekarno dan diarsiteki oleh Ir. Silaban yang nota bene beragama non Muslim itu, yang lebih urgen adalah segera membangun ruang parkir di bawah tanah, sekalian terowongan yang menghubungkan Masjid Istiqlal dengan Katedral yang posisinya berada di seberang jalan yang juga bernama jalan Katedral.

Leave a comment