Skip to content

Disetiap Centi Rabat Beton Dana Desa, Terselip Doa Semoga Cintamu Tak Pernah Retak Seperti Jalan Sebelum dibangun

Jalan Rabat Beton

KAUR || NUSANTARAMAILS.COM – Pembangunan rabat beton yang membentang di gang-gang desa sering kali hanya terlihat sebagai urusan fisik dan infrastruktur. Namun bagi masyarakat desa, setiap adukan semen dan tetes keringat yang menempel di permukaan jalan itu menyimpan lebih dari sekadar fungsi: ada harapan, ada kebersamaan, bahkan ada doa yang terselip di setiap sentinya.

Begitulah kira-kira makna yang bisa dirasakan dari proyek rabat beton yang dibiayai Dana Desa tahun ini. Di banyak tempat, masyarakat terlibat langsung mulai dari tahap penggalian hingga pengecoran. Gotong royong bukan hanya tentang kerja bersama, tapi juga tentang menautkan hati dalam satu tujuan — membangun desa dengan cinta.

“Kalau dulu jalan ini rusak, berlubang, sering bikin orang jatuh. Sekarang sudah halus, bisa dilewati anak sekolah tanpa takut,” ujar Sukardi, salah satu warga yang ikut bekerja dalam pembangunan rabat beton di desanya.

Baca Juga : 

Penyidik Subdit Tipidkor Polda Bengkulu Geledah Rumah Sekwan DPRD Provinsi, Dinas Perkim Lebong Hingga Toko Bangunan, Soal Dugaan Korupsi Bedah Rumah

Pembangunan rabat beton yang memanjang sekitar 250 meter itu dikerjakan dengan sistem padat karya tunai. Artinya, warga setempat sendiri yang menjadi tenaga kerja, sehingga manfaat Dana Desa tak hanya dirasakan dari hasil fisiknya, tapi juga perputaran ekonominya.

Warga Kecamatan Tanjung Kemuning, Rusnadi (45) mengatakan bahwa proyek rabat beton ini bukan sekadar memenuhi target pembangunan, melainkan bentuk komitmen untuk memperbaiki akses dan menghapus ketimpangan antar dusun.

“Kami ingin jalan ini bukan cuma kuat, tapi juga menjadi simbol harapan — bahwa seperti jalan ini yang kini kokoh, semoga hubungan antarwarga juga semakin erat,” ungkapnya.

Dan benar saja, di sela tawa para ibu yang menyiapkan kopi bagi pekerja dan anak-anak yang berlarian di pinggir jalan baru itu, terasa suasana yang hangat.

Seakan di setiap sentimeter cor beton yang mengering, terselip doa agar cinta antarwarga dan cinta terhadap desa tak pernah retak, seperti jalan sebelum dibangun.

Karena membangun desa sejatinya bukan hanya tentang mengerasnya jalan, tapi juga tentang melunaknya hati dan eratnya kebersamaan. Dana Desa hanyalah alat, namun cinta dan gotong royong adalah semennya yang membuat semua menjadi kokoh dan berarti.(yti)

Article topics

One comment

Tinggalkan Balasan