KAUR || NUSANTARAMAILS.COM – Dana Desa sejatinya hadir sebagai wujud cinta pemerintah kepada rakyat di pelosok negeri. Sebuah cinta yang lahir dari tekad untuk membangun dari pinggiran, menghapus kesenjangan, dan menumbuhkan kemandirian desa.
Namun, seiring waktu, cinta itu tampak mulai ternoda. Dana yang seharusnya menjadi berkah bagi masyarakat, justru kerap menjadi sumber masalah, perselisihan, bahkan godaan bagi mereka yang mengelolanya.
Di banyak desa, kisah manis Dana Desa berubah menjadi cerita getir. Transparansi yang diharapkan menjadi ruh utama pengelolaan, sering kali hanya sebatas kata di papan informasi.
Baca Juga :
Di balik angka-angka yang tercantum dalam APBDes, tak sedikit kejanggalan yang disembunyikan. Dari kegiatan fiktif, mark-up anggaran, hingga proyek setengah jadi — semua menjadi potret suram cinta yang tak lagi suci itu.
Tak hanya perangkat desa yang tergoda, kadang pihak-pihak di luar sistem turut ikut campur, menitipkan program atau kepentingan pribadi. Desa yang seharusnya menjadi rumah demokrasi justru dijadikan ladang transaksi dan ajang balas budi politik. Ketika amanah berubah menjadi ambisi, rakyat kecillah yang paling dirugikan.
Namun, tak semua kisah berakhir kelam. Di beberapa desa yang masih memegang teguh nilai kejujuran, Dana Desa benar-benar menjadi sarana perubahan. Jalan desa diperbaiki, irigasi dibangun, UMKM digerakkan, dan anak-anak bisa sekolah lebih layak. Artinya, masih ada cinta yang tulus di tengah noda ketamakan.
Kini, masyarakat menunggu kebangkitan cinta itu kembali. Agar Dana Desa tidak lagi diperlakukan sebagai “jatah kekuasaan”, melainkan amanah suci yang harus dijaga bersama. Karena ketika cinta pada rakyat dipelihara dengan jujur, maka Dana Desa akan kembali pada fitrahnya — sebagai simbol kasih yang membangun, bukan mencederai.(yti)

One comment