KAUR || NUSANTARAMAILS.COM – Desa bukan sekadar wilayah administratif di bawah kecamatan. Ia adalah tempat kehidupan berakar, tempat harapan tumbuh, dan tempat rakyat menggantungkan masa depan.
Namun sayang, tak jarang desa yang begitu setia menunggu perhatian justru diperlakukan seperti ladang kekuasaan, dihisap perlahan dengan tipu daya anggaran dan janji pembangunan yang tak kunjung nyata.
Bagi banyak masyarakat, desa adalah rumah. Tapi bagi sebagian oknum penguasa, desa hanyalah peluang — kesempatan untuk mengeruk keuntungan pribadi di balik nama pembangunan. Padahal, sejatinya desa itu seperti kekasih setia: ia hanya butuh ketulusan, bukan tipu daya; ia hanya menunggu sentuhan cinta, bukan rayuan palsu yang menguras sumber daya.
Baca Juga :
Dana Desa yang sejatinya menjadi energi untuk menghidupkan ekonomi rakyat kerap kali tersedot oleh praktik korupsi terselubung. Pembangunan fisik diprioritaskan demi citra, sementara pemberdayaan masyarakat—jiwa sejati dari pembangunan desa—sering diabaikan. Akibatnya, desa tidak tumbuh menjadi kuat dan mandiri, tetapi terus tergantung pada belas kasihan anggaran tahunan.
Padahal, jika desa dibangun dengan cinta dan kejujuran, maka rakyat akan berdaya. Gotong royong akan hidup kembali, dan pembangunan tidak lagi menjadi proyek pribadi, melainkan kerja bersama demi kesejahteraan semua.
Desa hanya ingin diperlakukan dengan kasih. Ia ingin para pemimpinnya hadir bukan sebagai penguasa, tapi sebagai pelayan rakyat. Ia menunggu bukan janji manis, tapi bukti nyata. Sebab desa tahu, cinta sejati dalam pembangunan bukan tentang siapa yang berkuasa, tapi siapa yang tulus membangun tanpa pamrih.
Dan hingga hari itu tiba, desa akan tetap setia menunggu — menunggu mereka yang datang bukan untuk menghisap dengan tipu daya, tapi untuk membangun dengan cinta dan kejujuran.(yti)

One comment