KAUR || NUSANTARAMAILS.COM – Tradisi Mangkal Luagh masih dilestarikan oleh masyarakat Padang Guci Kabupaten Kaur. Tradisi ini lahir sejak jaman nenek moyanv dulu yang hingga saat ini terus diwariskan kepada generasi penerus.
Namun, dalam pelaksanaannya mengalami pergeseran seiring dengan perkembangan jaman dan kemajuan dunia. Tradisi mangkal luagh yang digelar setiap ada warga desa hajatan besar seperti pesta pernikahan.
Jiran tetangga melaksanakan mangkal luagh yakni dengan mengajak para tamu undangan makan ke rumah-rumah warga. Panitia pengatur mangkal luagh yang ditunjuk membagi tamu undangan menjadi kelompok kecil untuk ke rumah warga.
Baca Juga :
Dampak Kurang Tidur: Dari Kulit Kusam hingga Kenaikan Berat Badan
Tamu undangan disuguhi makan minum layaknya jamuan. Namun, kini tradisi mangkal luagh bergeser dengan nilai rupiah. Dimana, warga yang mendaftarkan diri ikut mangkal luagh mengganti dengan sejumlah uang kepada saipull hajat.
Mangkal luagh yang diganti dengan uang ini sangat membantu pemilik hajat. Kemudian, masyarakat lebih fokus gotong royong di rumah hajatan tersebut.
Untuk satu pesta hajatan, sedikitnya tercatat 200-an masyarakat yang ikut mangkal luagh. Sehingga, uang dikumpulkan sangat membantu hajatan tersebut.
Pergeseran mangkal luagh ini didasari oleh waktu pelaksanaan hajatan dan mempertimbangkan kepadatan jadwal tamu undangan yang tidak bisa berlama-lama di tempat hajatan.
Tradisi mangkal luagh sebagai warisan budaya yang terus dipertahankan oleh masyarakat di Padang Guci merupakan bentuk kebersamaan warga ikut membantu hajatan besar yang diselenggarakan.
Pelaksanaan mangkal luagh juga mirip dengan arisan. Bergantian saling membantu untuk menyukseskan pesta pernikahan. Dengan tradisi ini saipul hajat akan terbantu dalam membiayai keperluan hajatannya.
“Tradisi mangkal luagh ini warisan budaya leluhur yang hingga kini masih dilestarikan. Saipul hajat sangat terbantu dengan kebersamaan warga bergotong royong meringankan beban hajatannya,” ungkap Septi Herwan.(yti)

Leave a comment