Skip to content

Tinta Terakhir Dilangit NTT, Bocah SD Tewas Gantung Diri Karena Tak Mampu Beli Buku dan Pena, Cermin Kegagalan Sistem Pendidikan Yang Digaungkan Gratis

Ilustrasi AI

NUSANTARAMAILS.COM – Langit Nusa Tenggara Timur (NTT) kembali menyimpan duka. Di sebuah sudut desa Kabupaten Ngada yang jauh dari riuh pembangunan dan gemuruh janji-janji kampanye, seorang bocah sekolah dasar mengakhiri hidupnya. Alasannya sederhana, tapi menampar keras nurani bangsa: ia tak mampu membeli buku dan pena.

Di usianya yang masih belia, ketika seharusnya ia sibuk mengeja mimpi dan bercita-cita menjadi apa saja yang ia mau, bocah itu justru menyerah pada tekanan yang tak semestinya ia tanggung.

Ia memilih gantung diri. Di pohon cengkeh rimbun yang seharusnya menjadi tempat berteduh, bukan tempat berpamitan.

Kabar ini bukan sekadar berita kriminal. Ini adalah tragedi sosial. Sebuah tamparan keras bagi sistem pendidikan yang selama ini dielu-elukan “gratis”.

Gratis yang Tak Pernah Benar-Benar Gratis

Negara berkali-kali menggaungkan pendidikan dasar tanpa biaya. Anggaran pendidikan diklaim mencapai 20 persen dari APBN. Program bantuan sosial, BOS, KIP, dan berbagai skema lain terus dipamerkan sebagai bukti keberpihakan.

Namun di lapangan, “gratis” sering kali hanya berarti bebas uang sekolah. Bukan bebas dari beban.
Buku pelajaran tambahan. LKS. Seragam. Iuran kegiatan. Fotokopi tugas.

Hingga alat tulis sederhana seperti pena dan pensil. Bagi sebagian keluarga di kota, itu pengeluaran kecil. Bagi keluarga miskin di pelosok NTT, itu bisa menjadi jurang yang memisahkan anak dari bangku sekolah.

Ketika guru meminta perlengkapan belajar, itu bukan salah. Sekolah pun bekerja dengan keterbatasan. Tapi ketika sistem tak mampu menjamin kebutuhan paling dasar seorang murid, di situlah kegagalan bermula.

Dan kali ini, kegagalan itu merenggut nyawa.

Tekanan yang Terlalu Berat untuk Usia Sekecil Itu

Anak-anak belum matang memahami bahwa kemiskinan bukan kesalahan mereka. Mereka belum mampu membedakan antara tanggung jawab orang tua, negara, dan keadaan.

Yang mereka tahu hanya satu: ketika tak mampu memenuhi permintaan sekolah, mereka merasa gagal.

Rasa malu bisa berubah menjadi beban. Teguran bisa berubah menjadi tekanan. Candaan teman bisa berubah menjadi luka.

Kita mungkin tak pernah tahu persis isi kepala bocah itu sebelum ia mengakhiri hidupnya. Tapi satu hal pasti: tak ada anak yang memilih mati hanya karena hal sepele.

Di baliknya ada akumulasi tekanan, rasa putus asa, dan perasaan tak berharga. Dan itu tak boleh dianggap remeh.

Di Mana Negara?

Setiap kali tragedi seperti ini muncul, responsnya hampir selalu sama: belasungkawa, janji evaluasi, dan komitmen untuk memperbaiki.

Namun pertanyaannya sederhana: mengapa harus menunggu korban?
Jika benar pendidikan adalah hak, maka negara tak boleh berhenti pada slogan.

Pendidikan gratis harus berarti benar-benar bebas dari beban biaya dasar. Tak boleh ada anak yang tak masuk sekolah karena tak punya buku. Tak boleh ada murid yang merasa rendah diri karena tak membawa pena.

Di daerah-daerah seperti NTT yang masih bergelut dengan angka kemiskinan tinggi, intervensi harus lebih nyata. Bukan hanya transfer anggaran, tetapi pengawasan distribusi, pendampingan keluarga rentan, serta kehadiran negara dalam bentuk nyata.

Guru yang peka, sekolah yang empatik, pemerintah daerah yang sigap.

Tragedi yang Seharusnya Menjadi Titik Balik

Kematian bocah ini bukan sekadar statistik. Ia adalah simbol. Simbol bahwa jurang antara kebijakan di atas kertas dan kenyataan di lapangan masih menganga lebar.

Kita sering berbicara tentang bonus demografi, generasi emas 2045, dan daya saing global. Namun bagaimana mungkin kita berbicara tentang masa depan, jika hari ini masih ada anak yang menyerah hidup hanya karena tak mampu membeli buku dan pena?

Tinta terakhirnya bukan tertulis di atas kertas. Ia tertulis di langit NTT — sebagai pengingat pahit bahwa sistem yang gagal melindungi anak paling lemah, adalah sistem yang perlu dibenahi dari akar.

Pertanyaannya kini bukan lagi siapa yang salah. Tapi apakah kita akan membiarkan tragedi ini berlalu sebagai kabar sesaat, atau menjadikannya momentum untuk benar-benar memastikan: tak ada lagi anak Indonesia yang merasa hidupnya lebih murah daripada sebatang pena.(**)

Article topics

One comment

Tinggalkan Balasan