NUSANTARAMAILS.COM – Republik ini luas bolo. Di Indonesia terdapat daerah-daerah yang sangat sulit dijangkau.
Bertahun-tahun menunggu kehadiran negara. Namun, hingga lelah negara tak kunjung datang.
Kemudian, ada orang-orang kampung di pedalaman yang bangun subuh berangkat ke kota Berpuluh-puluh kilometer berjalan.
Menyusuri jalan terjal, dimusim hujan bertarung dengan lumpur. Tujuannya, membawa satu atau dua jerigen BBM.
Jerigen yang berisi BBM dibawa pulang ke kampung untuk dijual kembali warga.
Dengan keuntungan Rp 1.000 perliter. Bahkan, kerap dihutangi oleh warga kampung.
Untung yang tak sampai seharga sepiring nasi untuk keluarganya. Jalan yang ia tempuh rusak, jauh, dan makan waktu berjam-jam.
Dari jerigen yang ia bawa pulang, mesin air di sawah menyala, motor ojek berangkat pagi, dagangan ibu-ibu sampai ke pasar tepat waktu.
Orang seperti ini dianggap penolong oleh kampungnya. Lalu suatu pagi ia diseret dengan tuduhan menimbun bahan bakar bersubsidi.
Beberapa orang menolak cara pandang seperti itu. Keadilan yang sehat mengenal siapa yang serakah dan siapa yang sekadar bertahan hidup.
Ketika negara yang belum sanggup mengantar bahan bakar subsidi sampai ke pelosok tak punya hak menghukum warga yang mengerjakan tugas tersebut.
Mereka reka meninggalkan tugas keluarga demi memenuhi kebutuhan bahan bakar warga kampungnya.
Lalu, sudahkah masyarakat di pelosok dengan kondisi ekstrim menerima subsidi BBM dengan tepat.
Bagaimana menurut pendapat bolo semua. Kritik boleh, menghujat jangan. Berpendapat sesuai dengan logika dan akal sehat.(**)

Leave a comment