Skip to content

“Suara dari Balik Lapak Lusuh”, Kami Hanya Pedagang Kecil Bukan Musuh Kota

Oleh: Perkumpulan Pedagang Pasar Minggu Bengkulu – (P3MB)

Kami tidak lahir dari kenyamanan. Kami lahir dari luka. Dari suara-suara pedagang kecil yang dikejar, digusur, dibungkam.

Dari tangan-tangan lelah yang menggenggam harapan meski dipaksa tunduk oleh aturan yang tak berpihak.

Kami bukan penyusup kota. Kami pengisi denyutnya. Setiap roda gerobak kami adalah roda ekonomi rakyat. Setiap lapak lusuh beratapkan payung robek itu adalah istana perjuangan.

Setiap meja reyot yang kami bawa sendiri adalah mimbar untuk mencari sesuap harapan.
Kami tahu, bagi sebagian orang kami hanya gangguan di pinggir trotoar.

Tapi bagi anak-anak kami, meja itu adalah biaya sekolah. Payung robek itu adalah tempat berlindung dari hujan dan lapar. Dan receh demi receh yang kami kumpulkan, bukan untuk foya-foya, tapi untuk makan, untuk bertahan, untuk hidup.

Baca Juga : 

Krisis BBM Di Bengkulu Kian Parah, Pemprov Tak Berdaya Atasi Kelangkaan

Namun hingga kini, negara dan kota seakan belum memberi tempat yang adil bagi kami. Kami masih dianggap mengganggu. Masih dikejar karena tak berizin. Padahal kami adalah bagian dari denyut ekonomi rakyat yang nyata.

Kami bukan pengganggu kota, kami justru penopangnya. P3MB (Perkumpulan Pedagang Pasar Minggu Bengkulu) lahir dari ketidakadilan yang dibiarkan membusuk bertahun-tahun.

Kami hadir bukan untuk melawan hukum, tapi untuk menuntut keadilan. Bukan untuk menolak ketertiban, tapi untuk menuntut tempat yang adil dan manusiawi.

Kami tidak minta dikasihani. Kami hanya ingin diakui. Diakui sebagai bagian dari rakyat yang punya hak bekerja, hak hidup, dan hak diperlakukan secara adil.
Gerobak kami bukan masalah, Tapi cermin wajah negeri.

Apakah negeri ini masih bisa berpihak pada yang lemah? Ataukah hanya tunduk pada modal dan proyek pembangunan?
Kami menyaksikan bagaimana pembangunan mengejar estetika, tapi melupakan manusia.

Kami menyaksikan bagaimana izin usaha mudah bagi yang besar, tapi hampir mustahil bagi kami yang kecil. Kami menyaksikan sendiri keadilan itu mahal, jika engkau tidak punya suara.

Hari ini, kami bersuara. Bukan untuk mengeluh, tapi untuk mengingatkan, Jika keadilan tidak hadir bagi yang paling kecil, maka negeri ini sedang kehilangan jiwanya.

Kami Bukan Beban, Kami Penopang, P3MB bukan sekadar organisasi. Kami adalah payung persatuan dari mereka yang selama ini dipinggirkan.

Kami mengorganisir diri bukan untuk menolak aturan, tapi untuk membuktikan bahwa pedagang kecil pun mampu tertib, rapi, dan ramah lingkungan, asal diberi tempat dan ruang untuk tumbuh.
Kami siap berdialog. Kami siap bekerja sama.

Tapi kami juga siap melawan bila hak hidup kami terus diinjak-injak. Gerobak kami, lapak kami, meja reyot kami bukan simbol kemiskinan. Itu lambang keberanian, Itu lambang harga diri, Itu lambang kami tak pernah menyerah.

Dengarkan Kami, Lihat Kami, Jika bangsa ini ingin disebut adil, dengarkan jeritan kami. Jika dunia ini ingin disebut manusiawi, tatap mata kami.

Karena di sana, ada nyala api perjuangan yang tak bisa dipadamkan. Kami adalah P3MB.
Kami bukan hanya pedagang. Kami adalah perlawanan yang bermartabat. Kami bukan beban kota, kami penyangganya.(**)

Article topics

Leave a comment

Tinggalkan Balasan