Skip to content

Sepekan Terakhir di Bengkulu, Setetes BBM Jauh Lebih Berharga Dibanding Emas Permata

Viral di Medsos harga BBM eceran tembus Rp 80 ribu perliter.

KAUR || NUSANTARAMAILS.COM – Dalam kurun waktu sepekan terakhir ini, wilayah Provinsi Bengkulu menghadapi situasi yang tak biasa. Bahan Bakar Minyak (BBM) menjadi barang langka yang nilainya melebihi nilai emas dan permata.

Antrean panjang di SPBU, aksi penimbunan, hingga lonjakan tarif transportasi menjadi pemandangan umum yang mencerminkan betapa krusialnya keberadaan BBM dalam kehidupan sehari-hari.

Kelangkaan BBM terjadi akibat terganggunya pasokan dari Depo Pertamina akibat perawatan darurat serta distribusi yang terhambat oleh pendangkalan alur dermaga Pulau Baii Bengkulu.

Kondisi ini memicu lonjakan harga BBM eceran di pasar gelap hingga menyentuh Rp 30.000 per liter, angka yang jauh melebihi kenaikan harga emas yang dalam periode yang sama justru relatif stabil.

“Kalau ada BBM, sekarang itu seperti punya harta karun. Banyak yang rela tukar perhiasan demi beberapa liter solar atau bensin,” ujar Supriyadi, seorang sopir truk di Bengkulu.

Ia mengaku tidak bisa bekerja selama empat hari karena ketiadaan solar. Bahkan, Pemkot Bengkulu terpaksa menerapkan sistem Work Form Home (WFH) bagi ASN, PPPK dan honorer lainnya akibat kelangkaan BBM.

Baca Juga : 

Jalin Kerjasama Pencehahan Korupsi, Direktorat AKBU KPK Kunjungi Kantor SMSI

Di media sosial, tagar #bengkuludaruratbbm menjadi trending topic nasional. Banyak warganet membagikan cerita mengenai betapa sulitnya mendapatkan BBM, bahkan lebih sulit daripada mendapatkan logam mulia.

Kondisi ini berdampak signifikan pada aktivitas ekonomi. Ongkos logistik meningkat, harga kebutuhan pokok melonjak, dan aktivitas transportasi umum menurun drastis.

Pemprov Bengkulu pun melayangkan surat ke Kementerian BUMN, Dirut Pertamina dan Pelindo untuk mempercepat suplai BBM. Mengupayakan percepatan diatribusi BBM melalui jalur darat guna menambah pasokan BBM.

Kejadian ini menjadi peringatan keras bagi ketahanan energi nasional. Ini bukti bahwa BBM bukan sekadar komoditas, tapi urat nadi perekonomian. Pemerintah harus mempercepat diversifikasi energi dan memperkuat cadangan strategis nasional.

Untuk sementara waktu, masyarakat diimbau mengurangi penggunaan kendaraan pribadi dan beralih ke moda transportasi yang lebih hemat energi. Pemerintah daerah juga didorong mengawasi distribusi BBM dan menindak tegas praktik penimbunan.

Dalam kondisi seperti ini, tampaknya benar adanya pepatah baru : di tengah krisis, setetes BBM bisa lebih bernilai dari pada sebongkah permata.(**)

Article topics

One comment

Tinggalkan Balasan