Skip to content

Rica Bocah 12 Tahun Dari Kaur Yang Mengubur Pendidikan Demi Nafkahi Keluarga, Sang Ayah Lumpuh Total-Dimana Gaung Bansos Pemerintah

Rica (12) warga Desa Tebing Rambutan Kecamatan Nasal Kabupaten Kaur tak bersekolah.

KAUR || NUSANTARAMAILS.COM – Rica (12) bocah kecil ini harus mengubur semua impiannya dalam mengejar masa depan. Betapa tidak, diusianya yang masih belia, ia harus berjuang menjadi tulang punggung keluarga menghidupi ayahnya, Rustam yang mengalami lumpuh total.

Kisah hidup Rica putri kecil dari Desa Tebing Rambutan Kecamatan Nasal Kabupaten Kaur ini menjadi pembelajaran bagi semua pihak. Khususnya pemerintah yang kecolongan dalam pendataan masyarakat miskin.

Data menyebutkan, Rica masuk dalam kategori Desil I di DTKS. Sedangkan di data Dapodik Rica tidak terdaftar di sekolah manapun.

Kesehariannya ia bekerja serabutan guna menghasil uang untuk makan keluarga. Sang ayah yang mengalami kelumpuhan total hanya bisa pasrah melihat putri kecilnya mengambil alih perannya dalam keluarga.

Diusia belianya, Rica tak seberuntung anak-anak lain yang mengejar cita-cita di bangku sekolah. Mendapat pendidikan formal serta menikmati berbagai fasilitas bantuan dari pemerintah.

Mungkin dibenaknya terbersit kapan ia akan mendapat keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Meskipun pemerintah telah menetapkan wajib belajar 12 tahun. Namun, ketetapan tetsebut tidak berlaku bagi Rica yang harus bergelut dengan panas maupun dinginnya hujan menerpa sepanjang hari mencari nafkah keluarganya.

Baca Juga : 

Event Triak 3, Bupati Serahkan Bantuan Bibit Sawit, Kapolres Benih Jagung dan SPBU Kaur Selatan Santuni Anak Yatim

Dimana program PKH, dimana program BPNT, dimana PIP, dimana BLT dan dimana bantuan sosial yang selalu digaungkan pemerintah untuk masyarakat miskin ekstrim seperti Rica.

Pemerintah kecolongan dari kasus Rica. Dimana pendamping PKH, dimana petugas sensus, dimana data masyarakat miskin ekstrim. Apakah Rica dan sang ayah tak tersentuh pendataan karena dipandang sudah tidak ada.

Kasus ini harusnya membuka mata, dimulai dari pemerintah desa, kecamatan, kabupaten, provinsi, hingga lembaga negara lain yang bertanggungjawab atas data penduduk miskin ekstrim agar lebih teliti dan benar-benar menelusuri semua pelosok negeri.

Program pendidikan gratis, sekolah rakyat maupun program lain dari pemerintah yang selalu menjadi gaung dalam setiap episodenya harus bisa menjawab kasus ini.

Rica dan keluarga hidup dari belas kasihan warga sekitar yang memberi makan. Hasil kerja Rica yang tak seberapa tidak mencukupi untuk biaya berobat sang ayah maupun biaya sekolahnya.

“Mari melek bersama, mari bantu Rica kecil, mari ringankan beban Rica malang. Kepada pemerintah jangan diam, ayo bergerak jemput data segera masukkan dalam program Bansos pemerintah,” ungkap Suryadi (47).(yti)

Article topics

2 comments

Tinggalkan Balasan