KAUR || NUSANTARAMAILS.COM – Libur panjang Idul Fitri 1447 H yang seharusnya menjadi momentum silaturahmi dan kebersamaan keluarga, justru menyisakan kekhawatiran bagi masyarakat di sekitar Jembatan Muara Padang Guci Desa Padang Kedondong Kecamatan Tanjung Kemuning Kabupaten Kaur.
Lokasi yang berada di jalur strategis penghubung antar kabupaten dan jalur lintas sumatwra antar pulau ini kerap dijadikan arena balapan liar oleh sekelompok remaja, terutama pada malam hari.
Fenomena balapan liar di kawasan jembatan tersebut dinilai sangat membahayakan, baik bagi pelaku maupun pengguna jalan lainnya. Selain mengganggu arus lalu lintas, aksi kebut-kebutan tanpa standar keselamatan itu juga menebar ancaman kecelakaan yang bisa berujung fatal.
Sejumlah warga mengaku resah dengan kondisi tersebut. Mereka menilai, setiap momentum libur panjang seperti Idul Fitri, intensitas balapan liar meningkat karena arus kendaraan relatif ramai dan banyak anak muda memanfaatkan waktu libur untuk berkumpul.
“Kalau malam hari, apalagi setelah salat tarawih atau di atas pukul 22.00 WIB, suara knalpot bising terdengar jelas. Kami khawatir terjadi kecelakaan, apalagi banyak pengendara dari luar daerah yang melintas,” ujar salah seorang warga setempat.
Jembatan Muara Padang Guci sendiri merupakan akses vital yang menghubungkan sejumlah wilayah di Kabupaten Kaur. Pada musim mudik dan arus balik Lebaran, volume kendaraan roda dua maupun roda empat meningkat signifikan. Kondisi ini tentu sangat rawan jika dibarengi dengan aksi balapan liar.
Baca Juga :
Masyarakat pun berharap adanya Pos Pelayanan (Posyan) terpadu di sekitar kawasan jembatan selama libur panjang Idul Fitri. Kehadiran pos tersebut diyakini mampu memberikan efek preventif, sekaligus menjadi pusat pengawasan dan pengamanan arus lalu lintas.
Warga menilai, kehadiran aparat dari unsur kepolisian, TNI, dan instansi terkait akan memberikan rasa aman bagi pengguna jalan. Selain itu, patroli rutin dan tindakan tegas terhadap pelaku balapan liar dianggap perlu untuk menekan potensi gangguan Kamtibmas.
“Kami bukan ingin menyalahkan anak-anak muda, tapi ini soal keselamatan bersama. Kalau ada pos dan patroli rutin, pasti mereka berpikir dua kali untuk balapan,” tambah warga lainnya.
Selain balapan liar, masyarakat juga mengkhawatirkan potensi tindak kriminalitas dan kecelakaan lalu lintas akibat minimnya pengawasan di titik tersebut. Penerangan jalan yang terbatas di beberapa sisi jembatan juga dinilai memperparah risiko kecelakaan pada malam hari.
Libur panjang Idul Fitri identik dengan meningkatnya mobilitas masyarakat. Oleh karena itu, sinergi antara aparat keamanan, pemerintah daerah, dan masyarakat sangat dibutuhkan guna menciptakan situasi yang aman dan kondusif.
Harapan warga sederhana, kehadiran Posyan Jembatan Muara Padang Guci selama masa libur panjang Idul Fitri bukan hanya menjadi simbol pengamanan, tetapi wujud nyata perlindungan terhadap keselamatan dan kenyamanan pengguna jalan. Dengan langkah antisipatif sejak dini, potensi balapan liar dan ancaman bahaya di jalur tersebut dapat diminimalisir.(yti)

One comment