Oleh : AGUS N. ALI/Sekretaris Desa Olimoo’o/Gorontalo
RATAPAN abdi desa yang tak pernah tertulis pada plakat emas saat keberhasilan program tercapai. Ratapan tentang Guru Ngaji, Guru PAUD, Imam Desa, Kader Posyandu, Linmas, dan Bidan Desa yang Terancam Tak Menerima Insentif Selama Enam Bulan
Di sudut-sudut negeri yang terlupakan, di kampung-kampung yang hanya menjadi angka statistik dalam laporan pembangunan, hidup mereka yang tak pernah diundang ke podium kehormatan. Mereka yang namanya tak tercatat di plakat emas, yang wajahnya tak pernah dipasang di spanduk keberhasilan program.
Namun merekalah yang sesungguhnya menjadi tulang punggung peradaban desa—yang patah dalam sunyi, yang retak tanpa ada yang peduli menyambungnya kembali.
Mereka adalah guru NGAJI yang mengeja ayat suci dengan bibir kering, guru PAUD yang mengajar sambil menahan lapar, imam desa yang mengumandangkan adzan dengan tenggorokan yang sesak, kader POSYANDU yang menimbang balita sambil mengabaikan perut anaknya yang keroncongan, LINMAS yang menjaga keamanan kampung dengan tubuh yang menggigil kedinginan, dan BIDAN DESA yang menolong persalinan dengan tangan yang gemetar memikirkan beban hidup.
Mereka adalah lilin yang rela meleleh demi menerangi kegelapan orang lain. Mereka adalah embun pagi yang menghidupi rerumputan, meski matahari kemudian menguapkan jasanya tanpa jejak. Bayang-bayang Gelap di Atas Langit Desa
Namun kini, ada kabut tebal yang turun menutupi harapan. Setelah terbitnya PMK 81 Tahun 2025—sebuah regulasi yang lahir dari meja-meja kekuasaan yang jauh dari debu kampung—aliran Dana Desa tiba-tiba macet, beku, terhenti seperti jantung yang berhenti berdetak.
Insentif mereka—satu-satunya napas kehidupan yang tersisa—terancam tak terbayarkan selama enam bulan. Bagi para pembuat kebijakan yang duduk nyaman di kursi empuk, mungkin enam bulan hanyalah periode anggaran, sekadar angka di kolom spreadsheet yang bisa “disesuaikan nanti.”
Tetapi bagi mereka yang hidup di desa, enam bulan adalah: Enam ratus dua puluh hari menelan malu. Delapan belas puluh empat minggu menahan tangis di hadapan anak-anak. Ratusan kali mengelak pertanyaan tetangga tentang utang yang belum terbayar.
Enam bulan adalah waktu yang cukup panjang untuk membunuh martabat seseorang secara perlahan—tanpa darah, tanpa luka yang terlihat, tetapi dengan kepedihan yang merobek jiwa setiap hari.
GURU NGAJI: Cahaya yang Meredup karena Diabaikan
Setiap petang, ketika langit berubah jingga dan sebagian besar orang sudah kembali ke rumah masing-masing, guru ngaji masih duduk bersila di sudut masjid yang reot. Suaranya yang parau membimbing anak-anak kampung membaca surah demi surah, huruf demi huruf yang kudus, dengan kesabaran yang tak pernah mengeluh.
Namun tak ada yang tahu bahwa sebelum berangkat mengajar, ia sudah berdebat dengan istrinya yang menangis karena beras habis. Tak ada yang tahu bahwa anak tertuanya sudah tiga hari hanya makan nasi dengan garam. Tak ada yang tahu bahwa ia sering menangis di kamar mandi, menutup mulut agar tak ada yang mendengar.
Di balik sorban dan sarung yang ia kenakan setiap hari, ada luka yang menganga lebar:
“Aku mengajarkan keimanan kepada anak-anak orang lain, tetapi keluargaku sendiri kehilangan keyakinan bahwa aku bisa menghidupi mereka”.
Guru ngaji tetap mengajar—bukan karena ia masih kuat, tetapi karena ia tak tahu harus ke mana lagi. Ia tetap menyalakan lentera keimanan bagi anak-anak kampung, meski lentera hidupnya sendiri hampir padam karena tak ada minyak untuk menghidupkannya kembali.

Leave a comment