Ragu Menyapamu
Ragu menyapamu, seperti embun ragu memutih,
Di tepi daun yang menahan beban pagi.
Bertanya pada hati yang terombang-ambing,
Antara cinta yang bersemi atau keraguan yang merajut.
Pandanganmu bagai petir di langit malam,
Menerangi kegelapan yang tak terjamah.
Namun, ragu menyelinap di balik sinarmu,
Apakah kilatan itu cinta sejati atau sekadar bayangan.
Langkahku terhenti, ragu menyapaku,
Saat kita bertemu di simpul takdir.
Antara terbuka atau tertutup pintu hati,
Ragu memintaku mempertimbangkan jalan ini.
Seperti kipas daun yang terombang-ambing,
Ragu menggetarkan hati yang mencari arah.
Di antara senyummu dan senyum ragu,
Aku berdiri, tergantung, di tepi keputusan.
Mungkin esok, ragu akan meredup,
Dalam cahaya yang bersinar di ufuk.
Atau mungkin, ragu akan tumbuh,
Menjadi kisah yang tak selesai terungkap.

Leave a comment