KAUR || NUSANTARAMAILS.COM – Di tengah derasnya arus informasi dan pesatnya perkembangan teknologi, profesi wartawan justru menghadapi tantangan baru: penyusutan nilai di mata sebagian masyarakat.
Tidak sedikit jurnalis di lapangan mengeluhkan bagaimana mereka kini kerap dipandang sebelah mata, bahkan dianggap sebagai “pengganggu” atau sekadar “alat” untuk meminta uang.
Pandangan keliru ini muncul akibat maraknya oknum yang mengatasnamakan profesi wartawan namun tidak menjunjung etika jurnalistik.
Banyak kasus menunjukkan adanya pihak-pihak yang memanfaatkan identitas pers untuk kepentingan pribadi, termasuk melakukan tekanan, intimidasi, bahkan meminta imbalan dengan iming-iming pemberitaan.
Situasi ini kemudian merusak citra wartawan secara keseluruhan, termasuk mereka yang bekerja profesional dan mematuhi Kode Etik Jurnalistik.
Sejumlah wartawan senior menilai kondisi ini sebagai fase terberat dunia pers setelah era reformasi. Bukan hanya persoalan citra, wartawan juga menghadapi pelemahan kepercayaan publik.
Banyak narasumber mulai bersikap defensif, enggan diwawancarai, bahkan mencurigai setiap pendekatan sebagai ancaman atau peluang pemerasan.
Tak sedikit pula jurnalis muda yang mengaku sering mendapat perlakuan tidak menyenangkan ketika bertugas. Ada yang ditolak secara kasar, diperlakukan seolah tidak penting, hingga dianggap hanya mencari-cari kesalahan.
Padahal, esensi utama jurnalisme adalah memberikan informasi akurat, mengawasi kekuasaan, dan menyuarakan kepentingan publik.
Di sisi lain, media arus utama terus mendorong peningkatan profesionalitas dengan pelatihan rutin, verifikasi perusahaan pers, sertifikasi kompetensi wartawan, serta memperkuat integritas redaksi.
Langkah ini penting untuk menjaga marwah profesi sekaligus memisahkan jurnalis profesional dari oknum yang berkedok pers.
Pakar komunikasi menilai, membangun kembali kepercayaan publik harus dilakukan melalui dua jalur: pembersihan internal di tubuh organisasi pers, dan edukasi kepada masyarakat terkait pentingnya jurnalisme yang kredibel.
Masyarakat pun diimbau lebih selektif dalam mengenali mana wartawan resmi dan mana yang tidak memiliki identitas serta legitimasi yang jelas.
Meski menghadapi tantangan berat, profesi wartawan tetap menjadi pilar penting demokrasi. Keberadaannya tidak bisa dipinggirkan hanya karena ulah oknum.
Di tengah kabut ketidakpercayaan saat ini, kerja-kerja jurnalis yang jujur, berintegritas, dan konsisten menyuarakan kebenaran menjadi harapan untuk mengembalikan martabat dunia pers Indonesia.(yti)

Leave a comment