Bengkulu Selatan – Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Bengkulu Selatan menggelar kegiatan keagamaan dan keorganisasian yang sarat nilai historis, spiritual, dan ideologis di Sekretariat NU Bengkulu Selatan, Senin malam (02/02/2026).
Kegiatan ini menjadi forum ijtima’ nahdliyyin yang merefleksikan peran NU sebagai jam’iyyah diniyyah ijtima’iyyah dalam mengawal Indonesia merdeka menuju peradaban yang mulia (al-hadharah al-karimah).
Acara tersebut dihadiri oleh Mutasyar Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Provinsi Bengkulu, K.H. Abdullah Munir, jajaran Mutasyar PCNU Bengkulu Selatan, seluruh Badan Otonom (Banom) NU, serta Pengurus Anak Cabang (PAC) NU se-Kabupaten Bengkulu Selatan.
Dalam sambutannya, Ketua Tanfidziyah PCNU Bengkulu Selatan, Kyai Muhammad Arif Luthfi, menyampaikan bahwa kegiatan pada Senin malam tersebut memuat tiga momentum penting yang memiliki signifikansi teologis, historis, dan kultural bagi warga Nahdlatul Ulama.
Momentum pertama adalah peringatan Satu Abad Hari Lahir Nahdlatul Ulama, yang secara historis diperingati setiap 31 Januari.
Tema yang diusung, “Mengawal Indonesia Merdeka Menuju Peradaban Mulia”, menegaskan komitmen ideologis NU dalam menjaga integrasi nilai keislaman (al-islamiyyah), kebangsaan (al-wathaniyyah), dan kemanusiaan (al-insaniyyah).
“Seratus tahun NU bukan sekadar peringatan simbolik, melainkan refleksi perjalanan panjang NU dalam membangun kesadaran keagamaan, sosial, dan kebangsaan. Dari rahim NU diharapkan lahir generasi yang mampu membawa kemajuan bangsa,” ujar Kyai Muhammad Arif Luthfi.
Momentum kedua adalah pelaksanaan Malam Nisfu Sya’ban, yang dalam tradisi Ahlussunnah wal Jama’ah dipahami sebagai malam penuh rahmat dan ampunan Allah SWT.
Nisfu Sya’ban menjadi ruang transisi spiritual menjelang Ramadhan, di mana umat Islam dianjurkan memperbanyak taubat nasuha, istighfar, dan muhasabah an-nafs sebagai bentuk pembersihan batin dan penguatan spiritualitas.
Momentum ketiga adalah pelaksanaan Megengan, sebuah tradisi kultural-religius khas warga NU yang dimaknai sebagai ritual menyambut datangnya Bulan Suci Ramadhan.
Tradisi ini merepresentasikan harmonisasi antara ajaran Islam dan kearifan lokal (local wisdom) yang telah mengakar kuat dalam praksis Islam Nusantara.
Sementara itu, dalam sambutannya, Rois Syuriyah PCNU Bengkulu Selatan, Kyai As’di Halim, menegaskan pentingnya kebanggaan identitas ke-NU-an sebagai bagian dari sanad keilmuan dan spiritual para masyayikh.
“Kita harus bangga menjadi orang NU, karena kita tidak sendirian. Seluruh gerak langkah kita senantiasa berada dalam pengawasan dan doa para guru-guru kita,” tuturnya.
Ia juga menekankan urgensi keaktifan (al-harakah) dalam berorganisasi. Menurutnya, keberadaan dalam struktur NU tanpa kontribusi nyata merupakan sebuah kerugian.
“Kita ber-NU harus aktif. Saya ingin menghidupkan (ihya’) keorganisasian seluruh kader dan Banom, agar NU benar-benar hadir membawa barakah dan manfa’ah bagi umat,” tegasnya.
Rangkaian kegiatan pada Senin malam tersebut ditutup dengan Istighasah, pembacaan Mahallul Qiyam, serta doa bersama yang dipimpin langsung oleh K.H. Abdullah Munir. (*)

Leave a comment