NUSANTARAMAILS.COM – Kisah inspiratif lahir dari sosok AKBP Arif. Ia menceritakan pengalaman pahit terhadap pelayanan kepolisian yang masih banyak dikeluhkan masyarakat.
AKBP Arif menceritakan bagaimana ia saat itu melakukan penyamaran (undercover, red) menjadi warga sipil biasa dan datang ke sebuah Polsek.
Dalam penyamarannya, AKBP Arif mendapati pelajaran yang sangat berharga tentang wajah pelayanan publik. Ia mengungkap sisi gelap birokrasi dimana sebuah masalah sering kali hanya diujur dari nominal rupiah dari rasa empati.
Melalui akun Instagram pribadinya @arif_fazlurrahman, ia membagikan pengalaman pribadinya saat menjadi korban kejahatan dan harus merasakan pahitnya pelayanan kepolisian yang kurang empatik.
Berikut ini cerita AKBP Arif kepada bawahannya di Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polsek Turi.
Baca Juga :
Refleksi HPN Tahun 2026, Jurnalis Bukan Pelayan Pemerintah, Catatan Panjang Pers Indonesia
Suasana hening, serius, para anggota menyimak dengan seksama.
AKBP Arif : (Menatap satu per satu anggotanya) “Pernah jadi korban kejahatan nggak, Pak Ridwan?”
Pak Ridwan: (Tegak) “Siap, insyaallah belum, Komandan.”
AKBP Arif: “Belum pernah? Baguslah. Tapi saya pernah. Saya ini polisi, tapi saya juga korban kejahatan. Sepeda saya dicuri maling. Padahal CCTV saya pasang sendiri, Babinsa sering kontrol ke sana karena saya yang suruh. Tapi ya itu, qodaratullah, saya tetap jadi korban.” (Beliau terdiam sejenak, memutar memori beberapa tahun silam)
AKBP Arif: “Singkat cerita, datanglah saya ke sebuah Polsek. Tok! Tok! Tok! Saya ceritain ini supaya kalian jangan sampai seperti itu. Dengarkan baik-baik.”
AKBP Arif: (Memperagakan peran warga) “Pak!’ kata saya. Petugasnya jawab malas-malasan, ‘Ya..’. Saya bilang, ‘Pak, saya mau laporan, ada musibah.’ Petugas itu tanya lagi, ‘Ya, ada apa?’. Saya jawab, ‘Saya habis kecurian, Pak.'”
AKBP Arif: (Berhenti sejenak, wajahnya berubah serius) “Kalian tahu? Mukanya itu… masih belum serius. Saya masih berdiri di depannya, disuruh duduk saja belum. Saya perhatikan saja, saya diam, saya tidak bilang kalau saya ini polisi. Saya berdiri terus sampai kaki capek. Mau langsung duduk, saya pikir nanti malah disemprot atau dikira nggak sopan. Tapi dia? Masih saja membiarkan saya berdiri.”
Petugas Polsek : “Hilang apa?”, emang harganya berapa?
AKBP Arif: “Hancur hati saya dengar itu, Pak. Hancur.”
(Suasana ruangan semakin hening, beberapa anggota menunduk)
AKBP Arif: “Belum apa-apa, empati sudah mati di sana. Harusnya suruh duduk dulu. Itu namanya memanusiakan orang. Saya bicara begini karena saya pernah di posisi kalian, dan saya pernah di posisi masyarakat yang sedang kemalangan. Sepeda pancal, Pak! Bukan motor. Motor saja susah dicari, apalagi sepeda pancal. Tapi ditanya harganya seolah-olah kalau harganya murah, laporannya nggak berharga.”
AKBP Arif: “Iya, kita tahu ada aturan ‘Perma’, ada pencurian ringan, berat, atau biasa. Tapi jangan divonis di depan dong! Apa kalau harganya lima ratus ribu terus kita nggak mau kerja? Nggak boleh begitu! Secara rupiah mungkin murah, tapi bagi orang itu, barang tersebut mungkin sangat penting. Hasil menabung bertahun-tahun.”
AKBP Arif: (Nadanya meninggi) “Kita belum tentu bisa menyelesaikan masalah orang, tapi jangan meremehkan masalah mereka! Jangan dianggap enteng! Saya pun dari awal tidak berharap sepeda itu ketemu, tapi saya butuh dihargai sebagai warga negara.”
AKBP Arif: “Saya lanjutkan lagi ceritanya, Petugas itu tanya lagi, ‘Emang harganya berapa?’. Di situ saya murka! Saya bilang, ‘Woi! Brengsek kamu! Panggil Kapolsekmu!’.
Kaget dia…
Saya bilang saya pernah jadi Kapolsek, nggak ada cara melayani orang seperti itu. Baru dia sibuk, ‘Siap, siap, siap Ndan!’
AKBP Arif: “Saya bilang ke dia, ‘Ini sepeda saya. Saya menabung untuk beli ini. Kalau harganya cuma seratus lima puluh ribu, kamu nggak mau terima laporan saya?’
AKBP Arif: (Menutup pembicaraan dengan lembut namun tegas) “Itu kejadian lima atau enam tahun lalu. Mestinya sekarang sudah nggak ada. Mestinya kalian sudah banyak berubah. Ingat ya, jangan pernah ukur kesedihan orang dengan nominal rupiah. Layani mereka seolah mereka adalah keluarga kalian sendiri yang sedang tertimpa musibah. Sepakat ya!
Pesan AKBP Arif sangat jelas, Pelayanan publik adalah soal martabat, bukan harga pasar. Ketika seorang aparat menanyakan “harga” sebuah kehilangan, ia secara tidak langsung sedang menegosiasikan keadilan. Narasi ini mengingatkan bahwa garda terdepan kepolisian adalah wajah negara bagi rakyat yang sedang terluka.(**)

Leave a comment