Nusantara Mails – Dalam rangka menyambut Bulan Suci Ramadhan 1446 H, Paguyuban Masyarakat Jawa Bengkulu (PMJB) Bengkulu Selatan menggelar tradisi Megengan di Rumah Budaya. (19/02/2025)
Acara ini diisi dengan tausyiah dari Muhammad Arif Luthfi yang membahas makna Megengan sebagai bentuk akulturasi budaya Islam dan Jawa.
Dalam tausyiahnya, Muhammad Arif Luthfi menjelaskan bahwa Megengan merupakan tradisi yang telah lama berkembang di masyarakat Jawa sebagai bentuk persiapan menyambut Ramadhan.
Kata “Megengan” sendiri berasal dari bahasa Jawa yang berarti “menahan”, mencerminkan semangat menahan diri dan introspeksi sebelum memasuki bulan penuh berkah.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa Megengan bukan hanya sekadar tradisi, tetapi juga sebagai media penguatan nilai-nilai Islam yang telah berakulturasi dengan budaya Jawa.
Salah satu bentuk nyata dari tradisi ini adalah kenduri bersama, di mana masyarakat berkumpul untuk berdoa dan berbagi makanan sebagai simbol kebersamaan dan kepedulian sosial.
“Megengan mengajarkan kita untuk mempererat tali silaturahmi dan saling berbagi. Ini adalah momentum untuk membersihkan hati dan mempersiapkan diri secara spiritual menyambut bulan Ramadhan,” ujar Muhammad Arif Luthfi di hadapan para hadirin.
Acara ini dihadiri oleh tokoh agama, sesepuh adat, serta masyarakat Jawa yang berdomisili di Bengkulu Selatan.
Mereka dengan antusias mengikuti rangkaian kegiatan, termasuk doa bersama dan tausyiah yang memberikan pemahaman lebih dalam tentang nilai-nilai keislaman yang melekat dalam tradisi Megengan.
Ketua PMJB Bengkulu Selatan Hartono, mengungkapkan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk melestarikan warisan budaya yang sarat akan nilai-nilai keagamaan.
“Megengan bukan sekadar tradisi, tetapi juga menjadi pengingat bahwa Islam dan budaya Jawa memiliki hubungan erat dalam membentuk karakter masyarakat yang religius dan berbudaya,” tuturnya.
Sosok Muhammad Arif Lutfi, M.Pd.
Muhammad Arif Luthfi merupakan sosok akademisi dan ulama yang berperan penting dalam dunia pendidikan dan keagamaan di Bengkulu Selatan. Saat ini, ia menjabat sebagai Kepala Lembaga Penjaminan Mutu di Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Makrifatul Ilmi (STIT-MI), sebuah institusi yang berkomitmen dalam mencetak generasi unggul di bidang pendidikan Islam.
Dalam perannya, ia bertanggung jawab memastikan kualitas akademik dan pembelajaran di STIT-MI berjalan sesuai dengan standar mutu yang telah ditetapkan.
Dengan dedikasi dan pengalamannya, Muhammad Arif Luthfi terus mendorong inovasi dalam metode pengajaran serta penguatan nilai-nilai keislaman di lingkungan kampus.
Selain itu, ia juga aktif dalam membimbing para mahasiswa agar tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga memiliki integritas moral dan spiritual yang kuat.

Selain berkiprah di dunia akademik, Muhammad Arif Luthfi juga memiliki peran strategis dalam organisasi keagamaan sebagai Ketua Tanfidziyah Nahdlatul Ulama (NU) Bengkulu Selatan.
Sebagai pemimpin struktural di NU, ia berkontribusi dalam membina umat serta mengembangkan program-program keislaman yang berorientasi pada peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Kepemimpinannya dalam organisasi ini mencerminkan komitmennya dalam menjaga ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah serta memperkuat sinergi antara pendidikan, sosial, dan keagamaan di wilayah Bengkulu Selatan.
Melalui berbagai kegiatan dakwah, pembinaan pesantren, dan program sosial, ia terus mengupayakan agar nilai-nilai Islam yang moderat dan inklusif dapat diterapkan secara luas dalam kehidupan bermasyarakat.

Leave a comment