KAUR || NUSANTARAMAILS.COM – Dari aspirasi lahir aksi, dari kolaborasi melahirkan solusi. Ini menjadi gambaran nyata hasil lokakarya mahasiswa KKN kelompok 134 Universitas Bengkulu (Unib) di Desa Aur Ringit Kecamatan Tanjung Kemuning.
Lokakarya digelar membahas persoalan sampah yang menjadi sumber keresahan warga desa setempat.
Lokakarya ini menghadirkan Kades, perangkat desa, BPD, tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh pemuda, karang taruna serta warga sekitar.
Pada sesi paparan program, didapat satu persoalan yang sangat menarik perhatian masyarakat yakni penanganan sampah.
Sampah yang didominasi jenis atau bahan plastik yang tidak terurai oleh tanah berserakan di kawasan Pasar Tradisional Pagar Batu.
Selain itu, sampah dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) juga menjadi penyumbang terbesar dikawasan ini.
Sampah-sampah SPPG ini menimbulkan keresahan ditengah masyarakat. Betapa tidak, bau busuk menyengat sangat mengganggu kenyamanan lingkungan.
Selain itu, sampah tersebut menjadi ancaman gangguan kesehatan bagi masyarakat sekitar.

Pemandangan yang seharusnya menjadi ruang hidup masyarakat perlahan berubah menjadi hamparan sampah.
Kebun yang mestinya menghasilkan manfaat ekonomi kini dipenuhi limbah. Sungai yang semestinya dijaga sebagai sumber kehidupan justru terancam menjadi saluran pencemaran.
Jika kondisi ini terus dibiarkan, maka bukan hanya persoalan estetika lingkungan yang dipertaruhkan, melainkan kualitas kesehatan dan keberlanjutan ekosistem desa.
Permasalahan tersebut semakin diperparah oleh tidak adanya jadwal pengangkutan sampah yang jelas dan konsisten.
Selain itu, lokasi tempat pembuangan sementara (Amrol) dinilai kurang strategis karena berada agak masuk ke dalam.
Sehingga sulit dijangkau oleh sebagian masyarakat. Akibatnya, banyak warga memilih membuang sampah secara sembarangan di lahan dan kebun milik warga.
Rendahnya kesadaran serta minimnya pengetahuan masyarakat mengenai pengelolaan sampah yang baik turut memperburuk keadaan.
Sampah yang dibuang sembarangan terus menumpuk tanpa penanganan yang memadai. Sehingga menimbulkan bau busuk yang semakin menyengat dan berpotensi mencemari lingkungan sekitar.
Melalui forum diskusi ini, masyarakat berharap adanya langkah konkret dari pemerintah desa, pengelola SPPG, dan pihak terkait.
Setidaknya menyusun sistem pengelolaan sampah yang lebih efektif, termasuk penentuan lokasi pembuangan yang lebih strategis.
Penjadwalan pengangkutan sampah yang jelas dan rutin, serta peningkatan edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya menjaga kebersihan lingkungan.
Dengan demikian, permasalahan sampah yang selama ini menjadi keluhan utama warga dapat segera ditangani secara berkelanjutan dan kolaboratif.
Lebih dari sekadar forum diskusi, lokakarya ini menjadi titik temu antara aspirasi masyarakat dan komitmen para pemangku kepentingan.
Sebab pada akhirnya, krisis sampah tidak akan selesai hanya dengan saling menyalahkan.
Ia membutuhkan keberanian untuk bertindak, kesediaan untuk berkolaborasi, dan komitmen untuk menjaga lingkungan sebagai warisan bersama.(**)

Leave a comment