NGADA, NTT || NUSANTARAMAILS.COM – Bak sambaran petir disiang hari, kabar meninggalnya YBS bocah berusia 10 tahun warga Dusun Dusun Sawasina, Desa Naruwolo, Ngada, NTT tewas gantung diri dibawah rimbunnya pohon cengkeh yang menjadi saksi bisu.
Bocah polos ini mengakhiri hidupnya dengan cara tragis dan meninggalkan pesan serta pembelajaran begitu berharga bagi semua manusia.
Mengenakan kaos merah dan celana merah, YBS sempat meninggalkan sebuah was!at terakhir. Bukan harta, melainkan sepucuk surat tulisan tangan yang digenggamnya erat sebelum kejadian.
Surat yang ditulis dalam bahasa daerah itu berisi pesan perpisahan yang menyayat hati, meminta sang ibu untuk tidak menangisinya.
Di balik tragedi ini, terselip kisah pilu tentang keterbatasan ekonomi. Sebelum menghembuskan napas terakhir, YBS diketahui sempat meminta uang kepada ibunya untuk membeli buku tulis dan pena untuk keperluan sekolah.
Namun, himpitan ekonomi membuat permintaan sederhana itu tak mampu dipenuhi sang ibu tepat waktu.
Baca Juga :
Kini, hanya keheningan yang tersisa di bawah pohon cengkeh tersebut. Polisi telah mengonfirmasi bahwa tulisan dalam surat tersebut identik dengan tulisan tangan YBS di buku-buku sekolahnya.
Saksi mata menuturkan bahwa sebelum kejadian, bocah malang tersebut lebih banyak termenung dan enggan berangkat ke sekolah.
Tragedi ini menjadi tamparan keras bagi semua orang akan pentingnya kepedulian terhadap kesehatan mental anak dan kondisi sosial ekonomi di daerah pelosok.
Sebuah buku dan pena mungkin hal kecil bagi sebagian orang, namun bagi YBS, itu adalah simbol harapan yang sayangnya harus pupus lebih awal.
Kepekaan pemerintah, daerah, provinsi, desa hingga masyarakat sekitar sangat diuji dari peristiwa yang menyayat hati.
Buku dan pena menjadi permintaan terakhir boca malang yang memendam harapan besar untuk meraih masa depan.
Kisah ini harusnya menjadi tamparan yang paling keras. Bukan hanya sebatas menahan sakit, namun lebih dari itu sayatan hati kemanusiaan yang lalai akan kondisi lingkungan sekitar.(**)

One comment