Skip to content

Kecongkakan Makan Siang Gratis, Pintu Kuliah Menggedor Meja Sang Utusan

JAKARTA || NUSANTARAMAILS.COM – Pernyataan ofensif Hashim Djojohadikusumo memantik reaksi keras meja kuliah di berbagai daerah.

Lewat tantangan terbuka kepada para pengkritik program Makan Bergizi Gratis (MBG), adik kandung Presiden ini seperti sedang melempar puntung rokok menyala ke atas jerami kering.

Gelombang amuk mahasiswa seketika tumpah ke aspal jalanan, menggedor arogansi kekuasaan yang dinilai abai pada jeritan kemiskinan sistemik.

Celakanya, badai yang ditiup Hashim tak hanya menghentak luar pagar. Namun, di dalam rumah yang ia bangun sendiri Forum Masyarakat Indonesia Emas (Formas) ikut terbakar.

Suasana mendadak gerah dan pecah kongsi, meninggalkan sang utusan terkepung oleh musuh dari luar dan pembangkang dari dalam.

Ketegangan Program MBG Mencapai Puncaknya

Pernyataan ofensif Hashim Djojohadikusumo memicu gelombang perlawanan mahasiswa sekaligus memecah kesolidan organisasi binaannya sendiri.

Pintu-pintu ruang kuliah di berbagai kota besar mendadak riuh. Aliansi mahasiswa dan elemen rakyat kembali turun ke jalanan Jakarta, Bandung, Surabaya, hingga Medan.

Pemantiknya bukan sekadar urusan menu di atas piring, melainkan sebaris kalimat bernada tinggi dari Utusan Khusus Presiden, Hashim Djojohadikusumo.

Di hadapan publik, Hashim menegaskan bahwa program MBG adalah harga mati kontrak politik pemerintah.

Tidak tanggung-tanggung, ia menyatakan siap mendatangi kampus-kampus untuk menghadapi langsung para pengkritik.

Langkah konfrontatif ini langsung dibaca sebagai bentuk arogansi kekuasaan, menyulut api perlawanan sipil yang kini membesar di jalanan.

Para demonstrant menyoroti angka fantastis: Rp335 triliun. Anggaran jumbo yang diproyeksikan program MBG ini dinilai rentan menjadi ladang korupsi baru. Di tengah meluasnya kemiskinan sistemik yang belum terselesaikan.

Retak Di Rumah Binaan

Sikap tanpa kompromi Hashim nyatanya tidak hanya memanen kritik dari luar. Di dalam rumah yang ia bangun sendiri Formas. suasana mendadak gerah.

Organisasi payung yang dideklarasikan di Gedung Dewan Pers untuk mengawal program pemerintah ini dilaporkan mulai “oleng”.

Kritik tajam datang dari internal. KH. Maksum Hidayatullah, salah satu tokoh Koalisi Formas, tidak bisa menyembunyikan kekecewaannya.

“Saya yakin, Pak Hashim ini keceplosan. Tetapi mungkin begitulah karakternya. Merasa paling benar sendiri, paling berkuasa sendiri untuk mengurus negeri ini,” ujar kiai asal Cirebon tersebut.

Menurut Maksum, Formas yang seharusnya menjadi wadah binaan kini !justru dibiarkan mati suri.

Suara bernada peringatan juga ditiupkan oleh Ferry Sibarani, fungsionaris Formas lainnya.

Ia meminta Hashim segera melakukan introspeksi jika ingin menjaga stabilitas politik.

“Ingat, banyak warning untuk bulan Agustus. Kita berharap Pak Hashim tidak menjadi pemicu yang membangkitkan kenangan reformasi! 1998,” cetusnya ketus.

Di tempat terpisah Yono Hartono, mantan pengurus Formas yang kini menjabat Wakil Direktur CAJ PWI Pusat ikut meradang.

“Dimasa lalu, saya orang pertama yang keluar dari pengurus Formas, karena saya tidak percaya dengan sosok Hashim. Hashim itu tidak akan ada empatinya, dia terlahir sudah kaya, dia tidak ngerti cara berfikirnya orang kecil,” ucap Yono.

“Saya anjurkan, untuk rekan – rekan yang masih ingin Formas tetap konsisten ikut serta menjaga program pemerintah dan NKRI, saya anjurkan gabung saja Ke Safri dan ikut pendidikan disiplin militer, atau bisa juga ikut ke Dasco. Saya ini PWI, saya pendukung Dasco” ungkapnya.

Saat ini, FORMAS terbelah menjadi dua faksi yang saling berhadapan. Faksi loyal buta yang tetap ingin mengawal program MBG tanpa syarat. Dan faksi moral yang mendesak pemerintah untuk kembali mendengarkan jeritan masyarakat bawah.

Rekam Jejak dan Bayang-Bayang Masa Lalu.

Kini, tantangan terbuka dari Hashim justru memperluas front perlawanan sipil. Alih-alih meredam suasana, program MBG kini justru menjadi ujian sabuk pengaman politik pemerintah yang mulai retak dari dalam.

Riuh unjuk rasa di aspal jalanan dan saling kunci faksi di dalam Formas akhirnya menelanjangi satu hal:

“Anggaran jumbo Rp335 triliun bukan sekadar urusan membagi menu di atas piring, melainkan pusaran magnet yang rawan memicu turbulensi politik baru”.

Alih-alih menjadi sabuk pengaman, sesumbar kata dari sang utusan khusus justru mengoyak barisan pertahanan dari dalam.

Bahkan membuka kembali kotak pandora rekam jejak lamanya ke panggung publik.

Kini, ketika faksi moral dan faksi loyal buta saling berhadapan, pemerintah dipaksa melihat kenyataan pahit di cermin kekuasaan mereka sendiri.

Bahwa stabilitas tidak bisa dibeli dengan sepiring makan siang gratis, terutama ketika sang penyaji hidangan sibuk menantang berkelahi para tamunya.(rlis)

Article topics

Leave a comment

Tinggalkan Balasan