Skip to content

Kecemburuan Sosial Ditengah Masyarakat Terkait Penyaluran Bansos, Nyata, Sensitif dan Sering Terjadi

NUSANTARAMAILS.COM – Isu kecemburuan sosial terkait pembagian Bantuan Sosial (Bansos) seperti PKH (Program Keluarga Harapan), BPNT (Bantuan Pangan Non Tunai), Bantuan Langsung Tunai (BLT) dan lain-lain adalah masalah yang sangat nyata, sensitif, dan sering terjadi di lapisan masyarakat bawah (grassroots).

Seringkali kita mendengar keluhan seperti: “Si A punya motor bagus dan rumah keramik kok dapat bantuan, sedangkan Si B janda tua rumah reyot malah tidak dapat?”

Berikut adalah analisis mendalam mengenai mengapa hal ini terjadi, dampaknya, dan solusi yang biasanya ditempuh.

1. Akar Penyebab Kecemburuan Sosial

Masalah ini biasanya bukan disebabkan oleh satu faktor tunggal, melainkan kombinasi dari beberapa hal berikut :

• Data yang Tidak Up-to-Date (Masalah DTKS):
Bantuan sosial berbasis pada DTKS (Data Terpadu Kesejahteraan Sosial). Masalahnya, kondisi ekonomi seseorang bisa berubah cepat.

• Ada warga yang datanya masuk saat mereka miskin (5 tahun lalu), sekarang sudah mampu, tapi datanya belum diperbarui (masih menerima).

• Ada warga yang baru jatuh miskin (misal karena PHK atau sakit), tapi belum terdata.

• Istilah “Salah Sasaran” (Exclusion & Inclusion Error):

• Exclusion Error: Orang miskin yang seharusnya dapat, malah tidak masuk data.

• Inclusion Error: Orang mampu yang seharusnya tidak dapat, malah masuk data.

• Kurangnya Transparansi di Tingkat Lokal:

Terkadang proses pengusulan data dari tingkat RT/RW atau Desa dianggap tidak transparan. Muncul dugaan nepotisme atau “pilih kasih” (memberi bantuan kepada kerabat perangkat desa/tim sukses), meskipun tidak semua desa seperti itu.

• Perbedaan Persepsi “Miskin”:
Standar kemiskinan menurut warga (pandangan mata) kadang berbeda dengan standar Badan Pusat Statistik (BPS) atau Kementerian Sosial (berdasarkan indikator lantai, dinding, penghasilan, dll).

2. Dampak di Masyarakat

Jika dibiarkan, kecemburuan ini bisa merusak kohesi sosial:

• Konflik Horizontal: Tetangga saling sindir atau memusuhi penerima bantuan yang dianggap tidak layak.

• Ketidakpercayaan pada Pemerintah Desa: Warga menjadi apatis atau marah kepada Ketua RT, RW, atau Kepala Desa.

• Mentalitas “Peminta”: Orang berlomba-lomba terlihat miskin agar mendapatkan bantuan, alih-alih berusaha mandiri.

3. Solusi dan Mekanisme Perbaikan

Pemerintah dan masyarakat sebenarnya memiliki mekanisme untuk mengurangi gesekan ini:

A. Musyawarah Desa/Kelurahan (Musdes/Muskel)

Ini adalah kunci transparansi. Undang-undang mewajibkan desa melakukan musyawarah untuk memverifikasi dan memvalidasi data.

• Dalam forum ini, data penerima dibacakan. Warga berhak protes: “Si A sudah kaya, coret saja” atau “Si B belum masuk, tolong dimasukkan.”

• Jika Musdes tidak berjalan, kecemburuan pasti meningkat.

B. Labeling (Stikerisasi) Rumah Penerima

Banyak daerah menerapkan aturan menempelkan stiker atau cat pilox bertuliskan “KELUARGA MISKIN / PRA-SEJAHTERA” di depan rumah penerima bansos.

• Tujuan: Memberikan sanksi sosial/psikologis.

• Efek: Warga yang sebenarnya mampu biasanya akan malu dan memilih mengundurkan diri daripada rumah bagusnya ditempeli stiker “Miskin”.

C. Fitur “Usul Sanggah” (Aplikasi Cek Bansos)

Kementerian Sosial kini menyediakan aplikasi Cek Bansos yang bisa diakses siapa saja lewat HP.

• Fitur Sanggah: Anda bisa melaporkan tetangga yang dianggap tidak layak menerima bantuan (sertakan foto rumah/asetnya).

• Fitur Usul: Anda bisa mendaftarkan diri sendiri atau tetangga yang layak namun belum dapat.

Kecemburuan sosial akibat PKH/BPNT adalah residu dari sistem pendataan yang belum sempurna dan dinamisnya kondisi ekonomi warga.

Kuncinya ada pada transparansi data dan keberanian warga untuk melapor melalui jalur resmi (Musdes atau Aplikasi), bukan hanya mengeluh di belakang.(**)

Article topics

Leave a comment

Tinggalkan Balasan