Skip to content

Kartini 1902 Habis Gelap Terbitkah Terang, Kartini 2025 : Pergi Gelap Pulang Terang

NUSANTARAMAILS.COM – Seabad lebih sejak Raden Ajeng Kartini menuliskan gagasannya dalam surat-surat yang menggugah, semangatnya masih membara di dada perempuan Indonesia. Dari balik kerudung zaman kolonial, ia berseru: “Habis gelap, terbitlah terang.”

Kini, di tahun 2025, cahaya itu telah menjalar ke berbagai sudut kehidupan perempuan Indonesia. Tapi, apakah semua terang?

Kartini 1902: Suara dari Kegelapan

Tahun 1902, Kartini baru berusia 23 tahun. Dari balik pingitan di Jepara, ia menulis kepada teman-temannya di Belanda. Ia bicara tentang pendidikan, kebebasan berpikir, dan kesetaraan bagi perempuan —gagasan yang kala itu dianggap radikal.

Dalam suratnya kepada Abendanon, Kartini menulis:

“Saya ingin sekali menjadi manusia merdeka, berdiri sendiri, bekerja untuk orang lain, tapi tidak diperintah.”

Baca Juga : 

Bahas Hibah Lahan Prokimal, Pemda Kaur Rapat Tindaklanjut Bersama TNI AL

Kartini tahu bahwa ia hidup dalam kegelapan, dipingit, dilarang sekolah lebih tinggi, dan ditentukan nasibnya oleh adat.

Namun, dari kegelapan itu ia menggali cahaya. Meski hidupnya singkat—ia wafat di usia 25 tahun, surat-suratnya menjadi obor perjuangan kaum perempuan.

Kartini 2025 : Cahaya di Tengah Tantangan Baru

Hari ini, Kartini tidak lagi terkurung di balik jeruji adat. Perempuan Indonesia menjadi menteri, insinyur, CEO, peneliti, guru, dan petani yang tangguh.

Teknologi membuka akses informasi dan pendidikan seluas-luasnya. Namun, tantangan Kartini masa kini berbeda.

Kartini 2025 menghadapi kekerasan berbasis gender digital, diskriminasi sistemik, tekanan standar kecantikan media sosial, dan ketimpangan ekonomi.

Meski lebih banyak yang terdidik, tidak sedikit yang masih “pergi gelap pulang terang” berjuang tanpa pengakuan, pulang tanpa keadilan.

“Pergi Gelap, Pulang Terang”

Di Jepara, para pelajar SMA mengenang Kartini bukan hanya lewat kebaya, tapi lewat diskusi publik tentang patriarki, literasi digital, dan kesetaraan akses kerja.

Di Jakarta, komunitas perempuan muda mengembangkan platform teknologi untuk memberdayakan UMKM perempuan di daerah.

“Saya rasa, semangat Kartini bukan hanya soal perempuan bisa sekolah,” kata Nabila, 26 tahun, pendiri start-up pendidikan di Yogyakarta.

“Tapi tentang bagaimana kita membebaskan diri dari segala bentuk kebodohan, penindasan, dan rasa takut.”

Kartini baru itu pergi ke medan perjuangan yang berbeda. Mereka menembus gelapnya algoritma media sosial, birokrasi yang bias, dan budaya kerja yang maskulin.

Mereka pulang membawa terang dalam bentuk perubahan sosial, pemberdayaan ekonomi, dan suara yang tak bisa dibungkam.

Sebuah Catatan Akhir

Kartini tidak pernah melihat Indonesia merdeka. Tapi pikirannya telah melampaui zaman. Ia tidak hanya memimpikan perempuan duduk di bangku sekolah, tapi membentuk dunia yang lebih adil.

Di 2025, kita bertanya : Apakah kita benar-benar telah sampai di terang yang ia impikan?

Jika jawabannya belum, maka seperti Kartini, kita harus terus menulis, bersuara, dan melawan.(**)

Article topics

Leave a comment

Tinggalkan Balasan