KAUR || NUSANTARAMAILS.COM – Karet merupakan komodoti tanaman petani yang sempat menjadi primadona. Pada tahun 1990-an hingga tahun 2000-an, mayoritas petani di Kabupaten Kaur berpangku pada hasil getah karet membiayai kebutuhan keluarga.
Namun, seiring perjalanan waktu, karet tidak lagi menjadi komoditi andalan. Terkikis oleh hamparan kelapa sawit yang kian digandrungi petani.
Pemangkasan tanam karet secara besar-besaran pun terjadi. Petani beralih ke tanaman kelapa sawit untuk menjadi sumber penghasilan utama.
Omriansyah (46) yang awalnya adalah petani karet, kini sudah 80 persen lahannya berubah menjadi kebun kelapa sawit.
Baca Juga :
Bawa Kabur Mobil Rentalan, Pria Ini Ditangkap Warga, Mobil Dimatikan Jarak Jauh Pemilik
Karet tidak lagi menjadi andalan, karena harga jual getah 10 tahun terakhir stagnan bahkan lebih cenderung melorot.
Padahal, populasi tanaman karet sudah hampir punah tergerus kelapa sawit. Sejak 10 tahun terakhir, harga getah karet belum menyentuh harga diatas Rp 10.000 perkilogramnya.
Harga getah karet pada pekan ini hanya diangka Rp 7.000 saja. Padahal, jumlah produksi getah karet sudah semakin sedikit.
“Ya, lebih menjanjikan kelapa sawit. Meskipun dampak tanaman ini sangat terasa luar biasa. Lahan sawah yang dikelilingi kelapa sawit pun kering. Mungkin karena mitos tanaman sawit menyerap air yang besar setiap harinya,” ujar Omriansyah.
Trend petani adalah saat ini kelapa sawit. Maka dari itu, jumlah produksi getah karet sudah semakin sedikit. Hal ini disebabkan, kebun karet dipangkas berganti sawit.
“Meskipun jumlahnya sedikit, namun harga tetap saja tidak naik. Ini juga menjadi faktor mengapa petani lebih memilih beralih ke tanaman kelapa sawit,” paparnya.(yti)

Leave a comment