“Kami sebagai warga pertama kali melihat unggahan di Facebook itu. Unggahannya sangat tidak senonoh. Jadi, kami ibu-ibu geram dan secara spontanitas bergerak ke lokasi joget-joget itu,” ujar Wati, Kamis (27/7/2023), seperti dikutip Tribun-Sulbar.com dari Kompas.com.
Rupanya, penggerebekan tersebut bukan sekali terjadi.
Tahun lalu, kafe yang sama pernah didemo warga hingga berujung ditandatanganinya perjanjian di kantor desa agar tak beroperasi lagi.
“Tahun lalu kami sudah pernah demo ke warung remang-remang ini. Sudah ada peringatan dan memberikan perjanjian di kantor desa. Ternyata masih ada. Warung remang-remang itu tidak enak dilihat masyarakat dan anak-anak,” lanjutnya.

Leave a comment