Skip to content

Filosofi Tukang Parkir : Banyak Mobil Tapi Tak Jumawa, Merasa Dititipi Tidak Merasa Memiliki

NUSANTARAMAILS.COM — Di tengah hiruk-pikuk kehidupan kota, sosok tukang parkir seringkali luput dari perhatian. Padahal, dari pekerjaan sederhana itu, tersimpan pelajaran hidup yang mendalam: tentang keikhlasan, kesabaran, dan kebijaksanaan dalam menyikapi dunia.

Salah satu filosofi yang menarik perhatian publik akhir-akhir ini berasal dari kalimat yang sederhana namun sarat makna: “Banyak mobil tapi tak jumawa, merasa dititipi, tidak merasa memiliki.” Kalimat ini seolah menjadi cerminan hidup yang bisa diambil dari profesi tukang parkir.

Seorang tukang parkir bisa setiap hari mengatur dan menjaga deretan mobil mewah, namun ia sadar sepenuhnya bahwa semua itu bukan miliknya. Ia tidak merasa lebih tinggi karena dekat dengan kemewahan, pun tidak merasa rendah karena pekerjaannya. Ia menjalani tugasnya dengan penuh tanggung jawab, menjaga titipan orang lain tanpa pamrih berlebihan.

Baca Juga : 

Audiensi ke Bawaslu, GP Ansor Dorong Bawaslu Bersikap Netral dan Bebas Intervensi

“Kadang saya jaga mobil Alphard, BMW, bahkan Ferrari,” kata Pak Darto (52), tukang parkir yang sudah bekerja lebih dari 20 tahun di kawasan perkantoran Jakarta Selatan.

“Tapi semua itu bukan punya saya. Saya cuma jaga. Kalau waktunya pulang, ya mobilnya ikut pulang dengan pemiliknya,” ucapnya dengan santun penuh makna.

Filosofi ini mengingatkan masyarakat luas tentang pentingnya rendah hati, terutama ketika sedang diberi kelimpahan oleh hidup—baik harta, jabatan, atau kekuasaan.

Semua itu, pada hakikatnya hanyalah titipan. Dan sebagaimana titipan, suatu saat pasti akan diambil kembali.

Psikolog sosial dari Universitas Indonesia, Dr. Rahma Indriani, menyebut filosofi ini sebagai bentuk kebijaksanaan lokal yang jarang diangkat.

“Orang sering terjebak pada rasa memiliki yang berlebihan. Padahal banyak masalah hidup datang dari keengganan kita melepaskan sesuatu yang sebenarnya hanya sementara dalam hidup kita,” ujarnya.

Filosofi tukang parkir pun kini viral di berbagai platform media sosial, dijadikan kutipan motivasi, bahkan dibahas dalam berbagai forum diskusi. Di tengah zaman yang serba cepat dan materialistis, kesederhanaan pemahaman ini justru menjadi oase yang menyejukkan.

Sebagaimana tukang parkir, mungkin kita pun perlu belajar untuk tidak terlalu melekat pada apa yang kita miliki hari ini. Sebab, bisa jadi semuanya hanyalah titipan, yang suatu saat harus kita lepaskan dengan lapang dada.

Rasa memiliki akan meninggalkan kepedihan dan kecemasan. Disaat yang dimilikinya pergi maka akan melahirkan duka dan kegelisahan yang berlebihan.(yti)

One comment

Tinggalkan Balasan