Skip to content

Fenomena Kemajuan Jaman, Hidup Tapi Mati

Gambar ilustrasi.(sumber: Facebook)

ARTIKEL satu ini tanpa disadari diri ini merasa tersindir saat membacanya. Bagaimana tidak, dalam kehidupan keseharian ditengah kemajuan tekhnologi gadget saat ini yang semakin canggih.

Bertamu, main Handphone
Ibadah, main Handphone
Terima tamu, main Handphone
Bekerja, main Handphone
Belajar, main Handphone
Sambil makan, main Handphone
Di tengah keluarga, main Handphone
Saat berkendarapun, main Handphone

Naudzubillah, Kiamatlah duniamu tanpa Handphone.

Dicium Bus SAN, Bocah Kelas IV SD Tewas, Sang Ayah Dilarikan Ke RSUD

Kadang terlihat dua orang saling duduk berhadapan, tidak berbicara sama sekali, karena salah satu atau keduanya sibuk main Handphone.

Kalaupun harus bicara akhirnya tidak nyambung dan muncul sikap tidak lagi peduli.

Punya masalahpun bukan lagi mendatangi keluarga yang dekat, tetapi membahas di Sosial Media (Sosmed) rasanya lebih ‘afdhal’.

Manusia menjadi ‘ada tapi tiada’ sahabat. Jasad – jasad yang telah menjadi zombi berkeliaran.

Hidupnya hanya seputar dunia dalam ponselnya. Basahnya embun pagi, hangatnya matahari pagi, Jabat erat tangan sahabat telah hilang dan diganti dengan gambar-gambar mati pada ponsel.

Gerak petualangan akan hebatnya bumi juga sudah diganti hanya dengan gerakan telunjuk dan jempol.

Hidup dalam kematian itu adalah keniscayaan, tapi mati dalam kehidupan itu pilihan.

Maka bangunlah, hiduplah sebagaimana manusia itu hidup.

Saat suami atau istri datang, simpan Handphone-mu, Saat anak bercerita, simpan Handphone-mu, Saat ibu bapak bicara, simpan Handphone-mu.

Saat tamu berkunjung, simpan Handphone-mu, Saat berkumpul di ruang keluarga simpanlah Handphone-mu, Saat rumah bau berantakan, simpan Handphone-mu.

Perhatikan duniamu dengan seksama, sebab nikmat Allah ada di sana. Hiduplah…!!!

Engkau belum mati, tapi sudah bertingkah seperti mayat. Semoga kita tidak seperti itu.

Ketahuilah bahwa Handphone itu bisa juga sebagai racun kehidupan. Bahasa psikologi nya Nomophobia.

Maka dengan menjauhkan diri kita dari dunia maya sama artinya dengan kita membuang racun dalam tubuh kita, bahasa kerennya detoksifikasi mental dan psikologis.

Dicium Bus SAN, Bocah Kelas IV SD Tewas, Sang Ayah Dilarikan Ke RSUD

Salam hangat, Redaksi nusantaramails.com.(**)

Article topics

2 comments

Tinggalkan Balasan